Sejarah Perjuangan Letkol Moch Sroedji

SEKILAS – LINTAS

SEJARAH RINGKAS RESIMEN INFRANTRI 19

Ditulis ulang dari :

NAPAK TILAS ROUTE GERILYA BRIGADE III/DAMARWULAN

Surat Keputusan Nomor : 01/KLM/SK/10/XI/1981 tanggal 10 Nopember 1981

TENTANG

PANITIA PELAKSANAAN PELACAKAN ROUTE GETILYA

BRIGADE III / DAMARWULAN.

 

Resimen Infanteri 19/Brawidjaya yang sekarang ini pada hakekatnya adalah penjelmaan dari pada Resimen-resimen B.K.R yang berturut-turut menjelma menjadi Resimen-resimen T.K.R.III+IV, T.R.I. Resimen 40, T.N.I. Brigade III.

B.K.R sendiri lahir pada tanggal : 1 September 1945, sebagai sambutan spontan terhadap anjuran B.R.E.N.I.P. agar di pusat dan di daerah-daerah segera dibentuk Badan-badan Keamanan Rakyat.

 

PERKEMBANGANNYA ( PROSESNYA )

Pada masa itu di daerah Karesidenan Besuki terbentuklah 2 ( dua ) Kesatuan Resimen Badan Kemanan Rakyat.

Kedua Resimen ini merupakan kristalisasi dari pada bekas Kesatuan-kesatuan Batalyon-batalyon Tentara Pembela Tanah Air ( PETA ) dan juga bekas Kesatuan-kesatuan Heiho ditambah dengan bekas-bekas kelompok-kelompok Seinendan, Keibodan, Simpu-tai, Suisen-tai dll.

Kedua Resimen ini masing-masing bernama Resimen-resimen BKR I dan BKR II. BKR I, di bawah pimpinan Ki Tahirudin Tjakraatmadja bekas Daidan-Tjo Dai II (Ni) Daidan di Besuki.

Dan B.K.R II dibawah pimpinan M. Soewito Kartosoedarmo, bekas Daidan-Tjo Dai I (Ichi) Daidan di Besuki.

Resimen BKR I mempunyai tanggung jawab wilayah yang meluputi daerah administrasi kabupaten-kabupaten Bondowoso dan Situbondo. Sedangkan BKR II mempunyai tanggung jawab wilayah yang meliputi daerah-daerah administrasi Kabupaten-kabupaten Jember dan Banyuwangi. Markas Komando BKR I berkedudukan di Kota Bondowoso, sedang markas komando BKR II berkedudukan di Kota Jember.

Sebulan kemudian sesuai dengan usaha penyempurnaan organisasi BKR dan Dekrit Presiden Republik Indonesia tgl. 5 Oktober 1945 tentang pembentukan Tentara Keamanan Rakyat, maka kedua Resimen BKR tersebut berubah menjadi Resimen TKR.

Dan sebagai hasil usaha penyempurnaan tersebut, maka Resimen I BKR berubah menjadi Resimen III/TKR Divisi VIII, dan Resimen II/BKR berubah menjadi Resimen IV/TKR Divisi VIII.

Pola organisasinya masih mengikuti pola organisasi Kententaraan Jepang. Resimen III/TKR mempunyai Kesatuan-kesatuan Batalyon-batalyon Kompi-kompi berdiri sendiri sbb :

  1. Batalyon Musjarfan (Mayor).
  2. Batalyon Soekotjo (Let. Kol).
  3. Batalyon Soedirman / Darsan Iroe (Mayor).
  4. Kompi Meriam Magenda (Kapten).
  5. Kompi P.T.K.R Mansyur (Kapten).

Adapun Resimen IV/TKR mempunyai Kesatuan-kesatuan Batalyon dan Kompi-kompi berdiri sendiri sbb :

  1. Batalyon Soerodjo (Let.Kol).
  2. Batalyon Moch Sroedji (Mayor).
  3. Batalyon Istiklah (Let.Kol).
  4. Batalyon Soepono Djiwataruno (Mayor).
  5. Kompi Meriam Sjafioedin (Kapten).
  6. Kompi P.T.K.R. Piet Soendoro (Kapten).

Tugas utama kedua Resimen tersebut pada masa itu adalah : melucuti senjata-senjata Jepang yang ada di daerah Karesidenan Besuki, menjadi backing Pemerintahan Umum setempat, menyelamatkan orang-orang Sekutu yang ditawan Jepang, menyiapkan diri untuk menghadapi segala kemungkinan pendaratan-pendaratan dari pihak musuh (Belanda – Nica) di daerah Besuki.

Pelaksanaan tugas-tugas tersebut dengan singkat dapat dituturkan demikian :

  • Perlucutan senjata Jepang dapat berhasil dengan sukses gemilang tanpa pertumpahan darah yang berarti. Pada masa itu di daerah Karesidenan Besuki masih terdapat ± 7.000 pasukan Jepang yang bersenjata lengkap. Perlucutan ini dapat berhasil baik sebagai akibat adanya usaha diplomasi yang dilakukan oleh Kapten Imam Soekarto dengan Panglima Divisi Jepang di Jawa Timur (Surabaya), yang disokong sepenuhnya oleh kesiap-siagaan seluruh Kesatuan-kesatuan dari kedua Resimen tersebut dan simultan disertai pula usaha-usaha diplomasi di bidang Pemerintahan Sipil (terhadap Sju-Tjokang/Presiden Jepang) oleh Presiden R.I. Mr. Soerjadi yang didampingi oleh Komandan Resimen III/TKR (Kolonel Ki Tahirudin Tjakraatmadja) dengan beberapa penasehat lainnya, yang hasilnya dapat menimbulkan pengertian pada Jepang tentang situasi gawat bagi pihak Jepang andaikata mereka tidak menuruti yang menjadi kehendak Republik (menyerahkan senjata-senjata pada R.I. cq TKR).
  • Pemerintahan Umum setempat menjadi semakin kuat / berwibawa.
  • Orang-orang tawanan bangsa Eropa dapat diselamatkan dan dilindungi sebaik-baiknya dan dipindahkan dari Kamp di Kesilir ke Kamp di Kotok.
  • Sedang kesiap-siagaan untuk menghadapi segala kemungkinan pendaratan dan serangan dari pihak musuh tetap dipertinggi.

 

TENTARA KEAMANAN RAKYAT (TKR) BERUBAH MENJADI TENTARA KESELAMATAN RAKYAT KEMUDIAN BERUBAH LAGI MENJADI TENTARA REPUBLIK INDONESIA (TRI)

 

Dalam Ilmu Ketatanegaraan modern, disebutkan unsur-unsur yang harus dipunyai oleh sesuatu Negara Merdeka. Salah satu dari unsur-unsur itu adalah Tentara Negara Merdeka. Negara Kesatuan Republik Indonesia harus mempunyai Tentara Negara yang dimaksud. Maka oleh pemerintah diusahakan terus-menerus penyempurnaan pada T.K.R. Nama Tentara Keamanan Rakyat dirasakan belum serasi dengan tuntutan organisasi Tentara Negara zaman modern. Kemudian dengan maksud untuk mendapatkan keserasian itu, pada tanggal 7 Januari 1946 nama Tentara Keamanan Rakyat dirubah lagi menjadi Tentara Keselamatan Rakyat. Akibat dari perubahan ini, kedua Resimen tersebut yaitu Resimen III dan IV berubah pula namanya menjadi Resimen III dan IV Tentara Keselamatan Rakyat.

Pemerintah Pusat ternyata belum puas juga dengan nama Tentara Keselamatan Rakyat tersebut sebagai suatu nama dari Tentara dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Oleh karenanya terus-menerus diusahakan untuk lebih menyempurnakan T.K.R. Akhirnya pada 2 minggu kemudian setelah lahirnya nama Tentara Keselamatan Rakyat, maka pada tanggal 24 Januari 1946 nama T.K.R. dirubah lagi menjadi lebih sempurna dan serasi dengan nama / bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia, yaitu T.K.R. dirubah menjadi Tentara Republik Indonesia (T.R.I.). Maka kedua Resimen tadipun ikut dirubah menjadi Resimen III dan IV / TRI / Divisi VII Suropati.

 

REORGANISASI DAN REFORMASI MENUJU KE SATU KESATUAN KOMANDO.

Setelah nama T.K.R. dirubah menjadi T.R.I, didalam kedua Resimen tersebut diadakan Reformasi dan Reorganisasi terhadap Kesatuan-kesatuan bawahannya. Setelah satu hasil dari adanya reformasi dan reorganisasi tersebutnyalah dihapuskannya organisasi Kompi-kompi Meriam (senjata berat) dan dibentuknya Deppot-deppot Batalyon pada permulaan Februari 1946.

Untuk Resimen III / TRI, Kompi Meriam (senjata berat) Magenda di hapuskan dan dibentuklah Deppot Batalyon Magenda. Sedang untuk Resimen IV / TRI Kompi Meriam Sjafioedin dihapuskan dan dibentuklah Deppot Batalyon Sjafioedin. Sedang Meriam-meriam yang ada pada Resimen-resimen tersebut semuanya ditarik ke Batalyon Artilleri Divisi VII (Malang).

Sementara itu terjadi mutasi atas pimpinan-pimpinan di Resimen IV / TRI. Kolonel M. Soewito Kartosoedarmo dibebaskan dari tugas dan jabatannya sebagai Komandan Resimen IV / TRI / Divisi VII dan dipindahkan ke Komando Divisi VII dan karena keahliannya sebagai tehnisi ia diangkat sebagai Komandan Resimen 38, lalu akhirnya diangkat sebagai Kepala Staf Divisi VII menggantikan Kolonel R. Iskandar Suleman yang ditarik ke M.B.T.R.I.

Sebagai komandan Resimen IV / TRI / Divisi VII yang baru diangkat Mayor Soepono Djiwo Taruno (Komandan Batalyon II / TRI / Resimen IV), dan pangkatnya dinaikan menjadi Kolonel. Sedang sebagai gantinya untuk menjabat sebagai Komandan Batalyon II diangkatlah Mayor R. Soegondo, semula Kepala Staf Resimen IV / TRI. Sebagai kepala Staf Resimen IV / TRI diangkat Lot.Kol.R. Istiklah (Komandan Batalyon III / TRI Resimen IV).

Komandan Batalyon III / Resimen IV yang baru diangkat Mayor Soepono Djiwo Taruno (Komandan Batalyon IV / Resimen IV yang baru diangkat Mayor Sastrodiharjo). Reformasi dan reorganisasi untuk mewujudkan satu Kesatuan Komando berjalan terus. Waktu mengaso sementara atau waktu jeda sebagai akibat dicapainya sementara perundingan “Linggardjati” digunakan untuk menyempurnakan jalannya organisasi dengan cara mengadakan reformasi dan reorganisasi. Di dalam daerah Karesidenan Besuki dengan adanya dua Resimen atau dua kesatuan Komando dipandang terlalu berlebih-lebihan atau tidak tepat. Maka dari itu dalam rangka reformasi dan reorganisasi itu kedua Resimen ini dilebur dan dijadikan satu Resimen saja, maka pada tanggal 17 Juni 1946 dileburlah kedua Resimen itu (Resimen III dan Resimen IV) menjadi satu Resimen saja. Dan sebagai hasil dari pada Reformasi/Reorganisasi atau kedua Resimen tadi atau sebagai hasil peleburan dari kedua Resimen tadi lahirlah Resimen 40/TRI/Divisi VII.

Sebagai Komandan Resimen 40/TRI/Divisi VII yang pertama, diangkatlah Kolonel Ki Tahirudin Tjakraatmadja (bekas Komandan Resimen III/TRI). Karena Komandan-komandan Resimen harus berpangkat Let Kol, maka pangkat Kolonel bagi Ki Tahirudin Tjakraatmadja diturunkan satu tingkat menjadi Let.Kolonel.

Bekas komandan Resimen IV (Kolonel Soerodjo) ditarik ke Komando Divisi VII dan diangkat sebagai Komandan Pertempuran front Surabaya-Selatan (daerah lahirnya Resimen 40, maka kesatuan-kesatuan Bawahan (Batalyon-batalyon) pun juga tak luput dari pada reorganisasi dan reformasi.

  • Batalyon Soegondo dilebur, dimasukan ke dalam Batalyon Sroedji dan ke Batalyon Sjafioedin.
  • Batalyon Soedirman dilebur, dimasukan kedalam Batalyon Musjarfan dan Batalyon Magenda.
  • Batalyon Soepono Djiwataruno dan Batalyon Sastrodihardjo dilebur jadi satu, kelebihan tenaga dari akibat peleburan ini dimasukan kepada Batalyon “Garuda Putih” (Kompi Djauhari dan Kompi Wijoto).
  • Deppot-deppot Batalyon dihapuskan dan dijadikan Batalyon Infanteri biasa. Deppot Batalyon Sjafioedin setelah mendapat tambahan tenaga sebagian dari ex Batalyon Soegondo, dijadikan Batalyon Infanteri biasa dengan nama Batalyon “Garuda Putih”. Sedang Deppot Batalyon Magenda dengan mendapat tambahan tenaga dari sebagian ex Batalyon Soedirman, dijadikan Batalyon Infantari biasa dengan nama Batalyon “Anjing Laut”.

Reorganisasi dan reformasi berhasil sekalipun menghadapi banyak kesulitan terutama kesulitan jiwa (psikologis). Dengan berhasilnya reorganisasi/reformasi tersebut susunan Resimen 40/TRI/Divisi VII menjadi baru sama sekali. Dan susunan ini sebagai berikut :

KOMANDO RESIMEN 40.

  1. Komandan Resimen : Let. Kol. Ki Tahirudin Tjakraatmadja.
  2. Ajudan : Kapten R. Soejono.
  3. Kepala Staf : Mayor R. Soegondo.
  4. Kepala Seksi I : Kapten Soeratman.
  5. Kepala Seksi II : Kapten R. Soetomo.
  6. Kepala Seksi III : Kapten Soendjoto.
  7. Kepala Seksi IV : Kapten Soemarjoto.
  8. Kepala P.H.B : Letnan I.R.Soekarto / Soetjokro.
  9. Kepala Genie : Kapten Soejono.
  10. Kepala Persenjataan : Letnan I. Adidarmo.
  11. Kepala Kendaraan : Letnan I. Soetjipto.
  12. Kepala Kesehatan : Mayor Dr.Rm.Soebandhi.
  13. Kepala Sekretariat : Kapten Soegeng Soenardjo.
  14. Kompi Dekking : Letnan I. Soeroso.

BATALYON – BATALYON.

  1. Batalyon Alap-Alap : Mayor Moch Sroedji.
  2. Batalyon Semut Merah : Mayor Musjarfan.
  3. Batalyon Macan Putih : Kapten Abd.Rifai.
  4. Batalyon Garuda Putih : Kapten Sjafioedin.
  5. Batalyon Anjing Laut : Kapten E.J.Magenda.

KOMPI BERDIRI SENDIRI

  1. T.R.I. : Kapten Soendjoto.
  2. Kompi Infanteri A. : Letnan I. Soemartojo.

Dengan tercapainya susunan ini terciptalah sudah cita-cita membentuk hanya ada satu Kesatuan Komando T.R.I. untuk seluruh Karesidenan Besuki. Kemudian terjadi lagi mutasi-mutasi sebagai akibat pula adanya peleburan-peleburan tsb :

  • Kol.R.Istiklah bekas Kepala Staf Resimen IV ditarik ke Komando Divisi VII.
  • Mayor Soedirman bekas Komandan Batalyon dari Resimen III, diangkat menjadi Komandan Resimen 39/TRI Divisi VII di Lumadjang.
  • Mayor Sastrodihardjo, bekas Komandan Batalyon IV dari Resimen IV ditarik ke Komando Divisi VII.
  • Mayor Soepono Djiwotaruno bekas Komandan Batalyon III dari Resimen III mengundurkan diri dari dinas Ketentaraan.
  • Kapten Imam Soekarto diangkat menjadi Ketua Panitia Organisasi POPDA dan APWI untuk daerah Besuki.
  • Mayor Musjarfan kemudian diangkat menjadi Komandan Keamanan Kota Jember, sebagai penggantinya untuk memimpin Batalyon Semut-Merah diangkat Kapten R.Rasadi.

Kemudian Kapten Sjafioedin, Kapten E.J.Magenda, Kapten Abd.Rifai dan Kapten R.Rasadi masing-masing dinaikan pangkatnya masing-masing menjadi Mayor. Selain tugas ke dalam yaitu menyelenggarakan reorganisasi dan reformasi, selama tahun 1946 itu Resimen 40 menghadapi dan melaksanakan tugas-tugas Nasional dan Internasional yang berat-berat.

Tugas Nasional tersebut antara lain sbb :

  1. Mempertahankan daerah Karesidenan Besuki dari setiap kemungkinan usaha-usaha pihak musuh yang akan menduduki kembali wilayah ini. Tugas ini dilaksanakan tidak sendirian saja atau dimonopoli oleh Resimen 40 tetapi dilaksanakan bersama-sama bahu-membahu dengan Angkatan Laut, Kepolisian, Kelaskaran yang berada di wilayah Karesidenan Besuki dan tak ketinggalan pula ikut memperkuat adalah Instansi Pemerintahan Sipil (Pamong Pradja dengan semua Jawatan-jawatan yang di bawah koordinasinya).
  2. Secara bergiliran mengirimkan Batalyon-batalyonnya ke front pertempuran di Surabaya Selatan (Kabupaten Sidohardjo).
  3. Ikut memperkuat front pertempuran di Jawa Barat (Karawang Bekasi) dengan mengirimkan Kompi Soekadijo dari Batalyon Alap-Alap yang tergabung dalam Batalyon Soeropati 1000 (Bn. Hamid Roesdi), dan mengirimkan Batalyon Sjafioedin (Bn.Garuda Putih) penuh.
  4. Memelihara hubungan yang sebaik-baiknya dengan Badan-badan Perjuangan dan Pasukan Kelasykaran-kelasy Dalam menghadapi perselisihan-perselisihan fisik yang timbul antara Pasukan-pasukan Kelasykaran, Resimen 40 bertindak sebagai pemisah/orang tengah (middellaar).
  5. Memadamkan pembangkangan sementara sepasukan KRIS yang menimbulkan keonaran di Kota Jember.
  6. Membantu membentuk dan melatih Brigade KRK (Kahar Muzakar) untuk persiapan expedisi ke seberang ke Sulawesi.
  7. Membantu persiapan expedisi Brigade Ngurah-Rai yang akan menyebrang ke Sunda Kecil (Nusa Tenggara).
  8. dan lain-lain.

Tugas Internasional sbb :

Membantu tugas Tentara Sekutu dengan :

  • menjaga keselamatan orang-orang tawanan bangsa Sekutu yang ada di daerah Karesidenan Besuki ;
  • menjaga keselamatan orang-orang Jepang.
  • menjaga/mengawal pengangkutan pemulangan (repatriasi) orang-orang tawanan bangsa Sekutu dan orang-orang Jepang tersebut sampai di tempat-tempat pelabuhan tertentu (Probolinggo dll).

Membantu Pemerintah India dengan :

  • menjaga dan mengawal pengiriman padi/beras untuk pemerintah dan Rakyat India hingga di tempat-tempat tertentu (pelabuhan-pelabuhan Banyuwangi, Panarukan dan Probolinggo).

Semua tugas-tugas tersebut baik yang Nasional maupun yang Internasional telah dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, dan inipun dapat berhasil berkat adanya bantuan dari semua pihak yang sama-sama ingin menegakkan Kewibawaan Pemerintah dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Resimen 40/TRI ini kemudian dikenal dengan julukan Resimen 40/Damarwulan.

 

PERANG KEMERDEKAAN PERTAMA MELETUS RESIMEN 40/DAMARWULAN BER-HIDJRAH.

Pada saat menginjak usia-hidup tahun 1947, terjadi lagi perubahan Kesatuan dan mutasi beberapa tenaga Pimpinan (Perwira-perwira) di lingkungan Resimen 40/Damarwulan. Batalyon “Alap-Alap” (Moch Sroedji) dipindahkan organisatoris, administratif dan taktis ke Resimen 39/Menak Koncar. Dan Mayor Imam Soekarto, setelah tugas Panitia POPDA dan APWI selesai dengan sukses gemilang, dipindah ke Resimen 39/Menak Koncar juga, dan diangkat menjadi Kepala Staf Resimen 39, dimana pada masa tersebut Let.Kol.Moch Sroedji telah diangkat menjadi Komandan Resimen 39/Menak Koncar. Beliau menggantikan kedudukannya Mayor Soedirman (Komandan Resimen 39 lama) yang diangkat menjadi Komandan Pertempuran seluruh Sektor Surabaya Selatan (Kabupaten Sidohardjo). Kapten Soemarjoto Kepala Keuangan Resimen 40, juga dipindahkan ke Resimen 39, sebagai gantinya adalah Letnan I Soetardjo.

Usaha Pemerintah untuk menciptakan hanya ada satu macam saja Tentara Negara berjalan dengan serius dan tak terluput pula dari segala kesulitan baik psikologis maupun lain-lain.

Dekrit Presiden Republik Indonesia Tanggal 5 Mei 1947 yang jiwanya melebur semua Kesatuan-kesatuan Laskar bersenjata ke dalam Tentara Republik resmi Pemerintah atau Negara dimaksudkan untuk itu. Tentara Republik Indonesia diganti lagi namanya mejadi Tentara Nasional Indonesia (TNI) Lasykar-lasykar bersenjata dijadikan TNI. Pelaksanaan peralihan dan peleburan Lasykar-Lasykar Bersenjata ke dalam TNI di daerah Karesidenan Besuki tidak dapat berjalan lancar, Biro Perjuangan Daerah XXI (Besuki) masing sedang mencari jalan yang sebaik-baiknya untuk melaksanakannya. Dewan Pertahanan Daerah Besuki dibentuk. Sementara itu dengan terbentuknya Dewan Pertahanan Daerah, dimana anggota-anggotanya harus duduk pula seorang Perwira Menengah, maka terjadilah pergantian pimpinan atas Resimen 40/Damarwulan. Let.Kol. Ki Tahirudin Tjakraatmadja dibebaskan dari tugas dan jabatannya sebagai Komandan Resimen 40/Damarwulan dan kemudian diangkat menjadi wakil Ketua Dewan Pertahanan Daerah adalah Presiden (waktu itu Presiden Besuki dijabat oleh Mr.Soerjadi) D.P.D. Besuki beranggotakan 5 orang, terdiri dari wakil-wakil Pemerintahan Sipil, Militer, Partai, Organisasi/Laskar. Sebagai Komandan Resimen 40/Damarwulan yang baru, diangkatlah Let.Kol. Prajudi Atmosoedordjo, sebelum pengangkatannya ini ia adalah Direktur Sekolah Kadet di Malang dan merangkap Kepala Organisasi Divisi VII.

Suasana politik dan militer menggenting lagi. Perjanjian Linggarjati dirobek-robek oleh Belanda secara sepihak dan gencatan senjata tak mungkin dipertahankan lebih lama lagi. Dan sebagai klimaksnya (puncak) menggentingnya situasi militer itu, pada tanggal 21 Juli 1947 secara khianat Belanda menerobos garis demarkasi dan menyerbu secara kilat (blitzkrieg), ke arah pedalaman Republik Indonesia. TNI mengangkat senjata lagi. Maka meledaklah bom Perang Kemerdekaan pertama. Kota-kota penting diseluruh daerah Karesidenan Besuki dapat diduduki musuh (Belanda). Adapun Resimen 40/Damarwulan dan semua Kesatuan-kesatuan Bersenjata lainnya yang hanya dengan perkakas-perkakas perang yang sederhana dan sudah kuno (usang), tidak dapat menahan majunya musuh yang dengan perkakas-perkakas perang yang komplit-lengkap dan modern itu maju bagaikan jalannya petir. Kemudian seluruh Resimen 40 dan semua Kesatuan Bersenjata yang lain (ALRI, Kelasykaran, Polisi dll) yang patriotik-militan dan bersama-sama pula dengan rakyat serta organisasi-organisasi massa juga militan dan revolusioner, semua mengadakan jihad perang gerilya dan ternyata gerakan-gerakan gerilya kita itu betul-betul mencemaskan pihak musuh.

Sebagai akibat perang Kemerdekaan pertama ini tidak sedikit korban-korban jiwa-harta-benda yang dipersembahkan kepada Ibu Pertiwi oleh patriot-patriot dari segala segolongan dan lapisan masyarakat (rakyat).

 

PERSETUJUAN “RENVILLE” – HIJRAH.

Perang gerilya sudah berjalan ± 7 bulan, sedang anggota-anggota Pasukan gerilya tengah asyik-asyiknya melakukan kegiatan-kegiatan gerilyanya dan dimana musuh sebenarnya mempunyai kecemasan yang besar terhadap kesatuan-kesatuan gerilya, tiba-tiba politik-damai Pemerintah berkumandang lagi. Persetujuan “RENVILLE” ditanda-tangani pada tanggal 17 Januari 1948, dan isi persetujuan tersebut antara lain penarikan Pasukan T.N.I. dari kantong-kantong gerilya ke daerah pedalaman yang masih dikuasai sepenuhnya oleh R.I. Perintah berhijrah untuk Resimen 40/Damarwulan diterima bagaikan halilintar di siang hari bolong.

Tetapi sebagai T.N.I. yang selalu patuh dan senantiasa berusaha menjunjung tinggi dan mentaati perintah-perintah Negara yang disalurkan melalui atasan secara hirarki, dan untuk membuktikan kepada dunia luar betapa tingginya mutu disiplin TNI. maka walaupun dengan rasa hati berat meninggalkan daerah Besuki dan rakyatnya, akhirnya pada awal Februari 1948 seluruh Resimen 40/Damarwulan ber-hijrah ke daerah pedalaman R.I. dan Batalyon-batalyon bertempat berpencaran yaitu di Blitar, Kediri, Malang-Selatan. Duka-derita lebih banyak dari pada suka-nya selama dalam perantauan (Hijrah ini).

 

RASIONALISASI DAN REKONSTRUKSI A.P.

Persetujuan Renville itu tidak saja hanya mengharuskan hijrahnya Pasukan-pasukan gerilya dari daerah kantong-kantongnya, tetapi ternyata juga telah mengakibatkan pula jatuhnya Kabinet Mr. Amir Sjarifoedin dan tampilnya Kabinet Drs. Hatta ialah mengadakan Rasionalisasi dan Rekonstruksi terhadap Angkatan Perang (TNI). Suatu Program yang amat terkenal pahitnya bagi TNI dan yang amat mengesan pula dalam hati-sanubari setiap anggota TNI. Namun demikian T.N.I. tetap T.N.I. yang setia kepada Pucuk Pimpinan Negara dan menjujung tinggi akan perintah-perintah dan rencana-rencana Negara.

Perintah Rasionalisasi dan Rekonstruksi sekalipun dengan hati sedikit berat dan kesal dikerjakan juga dan akan dimulai sejak awal April 1948. Sementara Re/Ra atas Resimen 40/Damarwulan baru akan dimulai, tiba-tiba terjadi penggantian pimpinan Resimen. Let.Kol. Prajudi Atmosudirdjo, Komandan Resimen 40/Damarwulan, dalam rangka Re/Ra itu juga dibebaskan dari tugas/jabatannya sebagai Komandan Resimen 40 dan selanjutnya dipindahkan ke Markas Besar A.D. di Yogyakarta.

Adapun sebagai Komandan Resimen 40/Damarwulan yang baru ditetapkan Let.Kol.Moch Sroedji yang sebelumnya adalah menjabat sebagai Komandan Resimen 39/Menak Koncar.

Let.Kol.Moch Sroedji sebagai komandan Resimen 40 yang baru, datang dengan menghadapi 2 tantangan tugas yang tidak ringan. Tugas tersebut ialah :

  1. Memperhatikan pemeliharaan anak-buah anggota-anggota Hijrah dari Daerah Besuki.
  2. Melaksanakan Re/Ra tersebut sebagai persiaran pula pembentukkan Brigade Mobil (Mobrieg) untuk daerah Karesidenan Besuki khususnya.

Tugas pertama tidak dapat berjalan lancar sebagaimana yang diharapkan, disebabkan keadaan perekonomian Negara yang memang berat keadaannya. Sedang tugas ke-dua pun banyak menghadapi kesulitan, terutama di bidang psikologis. Sangat sulit mengatasi adanya perasaan dan anggapan “Habis manis sepah dibuang” di kalangan bawahan.

Brigade III persiapan hasil Re/Ra tersusun. Dalam kesempatan pelaksanaan Re/Ra inilah peleburan Kesatuan-Kesatuan Kelasykaran Bersenjata yang dari daerah Besuki untuk dilebur ke dalam atau menjadi T.N.I. mulai dapat dilaksanakan. Akan tetapi dari Kesatuan Kelasykaran ini, yang masuknya ke dalam Brigade III persiapan secara ikatan Kesatuan (Seksi, Kompi Verband) hanyalah Kesatuan Kelasykaran dari Kompi Hisbullah/Mudjahidin di bawah pimpinan Sdr. Sultan Fadjarnjoto dan Sdr. Hadji Sjech. Kesatuan-kesatuan Kelasykaran yang lainnya seperti B.P.R.I, Pesinde dll. Masing-masing langsung menggabung kepada induk kesatuannya setelah tibanya lidang pedalaman.? Namun demikian secara perorangan (tidak dalam ikatan Kesatuan) banyak pula yang menggabung pada Resimen 40/Damarwulan (Brigade III persiapan).

Belum lagi hasil pelaksanaan Re/Ra atas Resimen 40 (Brigade III persiapan) sempurna, tiba-tiba timbullah gangguan yang memaksa dihentikannya untuk sementara waktu penyempurnaan hasil Re/Ra tersebut. Gangguan tersebut adalah berupa “pemberontakan” Madiun atau yang lebih populer ”Madiun Affair” oleh P.K.I. Muso-Amir Sjarifudin, yang meletus pada tanggal 18 September 1948.

Ekor pemberontakan ini berkecamuk pula di daerah Kabupaten Blitar dan sekitarnya. Brigade III persiapan mendapat tugas untuk memadamkan ekor pemberontakan yang berkecamuk di daerah Kabupaten Blitar tersebut.

Let.Kol.Moch Sroedji segera menyisingkan lengan bajunya. Mengingat di daerah Blitar terdapat banyak kesatuan-kesatuan bersenjata dari lain-lain angkatan, misalnya ada A.L.R.I., AURI, Kepolisian, T.R.I.P. dan lain-lain lagi, maka untuk memudahkan jalannya Komando dan Koordinasi serta lancarnya jalannya tugas pemadaman, oleh Komandan Brigade III (Let.Kol.Moch Sroedji) dibentuklah Staf Gabungan Angkatan Perang dengan disingkat SGAP. dan beliau sendiri dipilih duduk sebagai Komandan S.G.A.P. ini. Dan setelah segala persiapan yang diperlukan selesai, maka dilancarkanlah dengan segera aksi pemadaman ke daerah-daerah Kecamatan-kecamatan Nglegok, Gandusari, Semon (Wlingi), Kademangan, Lodoyo dll, juga 2 Kompi dari Batalyon Soedarmin (Bn Macan Putih) digerakkan ke daerah Nganjuk kemudian sampai ke Ponorogo.

Tugas pemadaman di daerah Blitar ini dapat diselesaikan oleh S.G.A.P. dalam waktu hanya 1 bulan dengan hasil yang gemilang tanpa banyak mengorbankan jiwa di pihak SGAP maupun di pihak pemberontak. Pemberontak-pemberontak yang dapat ditangkap dan yang menyerah, pengusutan.penyelesaian selajutnya diserahkan pada Panitia Screening yang dibentuk SGAP dengan maksud agar tidak sampai terjadi pembunuhan yang sewenang-wenang (tanpa melalui proses pemeriksaan yang teliti).

MELANJUTKAN TUGAS RE/RA

Setelah tugas pemadaman ekor pemberontakan Madiun yang berkecamuk di daerah Blitar pada akhir Oktober 1948 dapat diselesaikan, maka Resimen 40/Damarwulan segera beralih lagi ke tugas melanjutkan tugas Re/Ra, menyempurnakan hasil-hasil yang telah tercapai pada saat meletusnya peristiwa Madiun itu. Akhirnya tercapailah usaha penyempurnaan tersebut dan sebagai hasil akhir dari pada tugas RE/RA tercapailah susunan Brigade III persiapan itu sbb :

KOMANDO BRIGADE

  1. Komandan Brigade = Let.Kol.Moch.Sroedji.
  2. Brigade Mayor = Major Imam Soekarto.
  3. Ajudan
  4. Kepala Seksi I = Kapt. Soeratman.
  5. Kepala Seksi II = Letnan I Machfoed.
  6. Kepala Seksi III = Kapt. Musjarfan.
  7. Kepala Supply = Letnan I Noerogo.
  8. Kepala K.O. = Letnan I Soetardjo.
  9. Kepala P.S.D. = Letnan I Adidarmo.
  10. Kepala P.H.B = Letnan I Maridjo.
  11. Kepala Geni Pionir = Letnan II Lesmono.
  12. Kepala Kendaraan = Letnan II Maridjo.
  13. Kepala Kesehatan = Let.Kol. Dr.Soebandi
  14. P.I. = Letnan I Soethipto.
  15. Sekretariat = Letnan II O. Djajadi.
  16. Datasemen = Letnan I W.A.Soelep.

KESATUAN-KESATUAN BATALYON

  1. BATALYON 25 (BANTENG-MERAH).
  2. Komandan Batalyon = Mayor Sjafioedin.
  3. Kompi Markas = Letnan II Moerdjadi.
  4. Kompi II = Kapten Soetojo.
  5. Kompi II = Kapten Soekadijo.
  6. Kompi III = Letnan I Winoto.
  7. Kompi IV = Letnan I Hadji Sjech.
  8. BATALYON 26 (ANJING LAUT).
  9. Komandan Batalyon = Major E.J.Magenda.
  10. Kompi Markas = Letnan I R.Hardjono.
  11. Kompi I = Letnan I Soemardi.
  12. Kompi II = Letnan I R.Soetodjo.
  13. Kompi III = Kapten R.Oentoeng.
  14. BATALYON 27 (MACAN PUTIH).
  15. Komandan Batalyon = Kapten R.Soedarmin.
  16. Kompi Markas = Letnan I Soeradji.
  17. Kompi I = Letnan I B.G.Soemarto.
  18. Kompi II = Letnan I Soewardi.
  19. Kompi III = Letnan II A.R.Djoharman.
  20. DEPPO BATALYON.
  21. Komandan Deppo Bat. = Mayor Darsan Iru.
  22. Kompi Markas = Letnan I Karsono.
  23. Kompi I = Kapten Sjofanhadi.
  24. Kompi II = Letnan II Moch Daki. ?
  25. Kompi III = Letnan I G.Hartono.
  26. Kompi IV = Letnan II B.Soemarto.
  27. KOMPI-KOMPI BERDIRI SENDIRI.
  28. Kompi Besar = R.Bintoro
  29. P.M. = Letnan I R.Widjono.

Dan susunan seperti tertera di atas kemudian disahkan secara resmi bersamaan dengan pengesahan/pelantikan berdirinya Divisi I/Jawa-Timur, yang dilakukan di lapangan Kuwak (Kediri) pada tanggal 17 Desember 1948.

 

PERANG KEMERDEKAAN KE II MELEDAK BRIGADE III/DAMARWULAN WINGATE (MENYUSUP KEMBALI) KE DAERAH BESUKI.

Sementara itu suasana politik dan militer Republik Indonesia dan Negeri Belanda menggenting lebih hebat lagi. Perjanjian Renville goyah dan kemudian dirobek-robek sendiri secara sepihak oleh Belanda.

Sehari setelah peresmian berdirinya Divisi I/Jawa-Timur termasuk di dalamnya itu Brigade III/Damarwulan, pihak Belanda melancarkan serangannya lagi pada Republik Indonesia dan menorobos garis demarkasi. Dengan kejadian ini pecahlah Perang Kemerdekaan ke II bagi kita. Seluruh potensi Nasional yang militan di Jawa Timur pada umumnya dan khususnya T.N.I. Divisi I/Jatim bangkit kembali mengangkat senjatanya melawan musuh-musuh Republik Indonesia terutama Tentara Belanda dengan antek-anteknya.

Brigade III/Damarwulan mendapat tugas harus wingate (menyusup kembali) dan berjuang di daerah asalnya yaitu Karesidenan Besuki. Tugas ini memang yang ditunggu-tunggu oleh Brigade III, yang telah rindu dengan masyarakat Besuki umumnya khusunya keluarga-keluarganya yang telah ditinggalkan selama lebih kurang 1 tahun.

Maka setelah komandan Brigade III dengan Komandan Batalyon-nya mengadakan rapat kilat untuk menentukan siasat, berangkatlah Kesatuan-kesatuan seluruh Brigade III pada tanggal 21 Desember 1948 dari tempat-tempat kedudukannya yang terpencar (dari Kota Blitar, Ngunut, Wlingi, dan Djengkol/Kediri), menuju daerah Besuki. Dalam gerakan wingate atau penyusupan kembali ini tak mau ketinggalan pula rombongan-rombongan dari Pemerintahan Sipil R.I. yang waktu Hijrah juga turut hijrah dan selain itu rombongan keluarga yang jumlahnya tidak sedikit yang cukup besar pula meminta perhatian pimpinan demi keselamatan mereka itu.

Kemudian dengan mengalami duka derita yang berupa pertempuran-pertempuran besar kecil dan kekurangan perbekalan/makanan selama dalam perjalanan antara Kediri-Blitar dan Lumajang, akhirnya setelah menempuh perjalanan kaki selama satu bulan setengah (± 45 hari), seluruh kesatuan-kesatuan Brigade III telah sampai di tepat-tempat yang telah di tentukan bagi masing-masing. Jelasnya sbb :

  • Bn 27 tiba didaerah Banyuwangi.
  • Bn 26 tiba didaerah Bondowoso.
  • Deppo Batalyon tiba didaerah Penarukan.
  • Bn 25 tiba didaerah Jember.
  • Komando Brigade III tiba didaerah Jember bersama-sama Bn 25.

Pertempuran-pertempuran besar yang terjadi selama dalam perjalanan Wingate action antara lain pertenpuran-pertempuran yang terjadi di :

  1. Kesamben/Wlingi.
  2. Jambu Wer/Wlingi.
  3. Selopuro/Wlingi.
  4. Pagak, Ampelgading (Malang Selatan).
  5. Tempursari (Perkebonan Malang Selatan).
  6. Jarit (Pasirian).
  7. Candipuro (Pasirian) Lumajang.
  8. Penanggal (Pasirian) Lumajang.
  9. Besuk (Tempeh) Lumajang.
  10. Aengsono (Jatiroto) Lumajang.
  11. Krucil dan Puring (Kraksan) Probolinggo.
  12. Karangsono (Bangalsari) Jember.
  13. Poma (Lojajar/Puger) Jember.
  14. Cakru (Kencong) Jember.
  15. Gayasan (Jenggawah) Jember.
  16. Wonowiri dan Bandealit/Jember.
  17. Paterana, Koalas, Ardisaeng (Bondowoso).
  18. Tamanan (Maesan) Bondowoso.
  19. Karangkedawung (Jember).
  20. Kesilir (Banyuwangi).
  21. Ban Julor (Banyuwangi).
  22. Tenap, Panduman, Jumerto (Ardjasa) Jember.

Dan masih banyak lagi yang jika dicantumkan semuanya akan memakan lembaran-lembaran yang lebih banyak, dan tidak akan merupakan lembaran-lembaran sejarah ringkas apabila pertempuran-pertempuran kecil sebagai aktivitas serangan-serangan gerilya harus kita muatkan juga di sini.

Pendeknya sesudah Kesatuan-kesatuan dari Brigade III tiba di tempat-tempat tujuan yang terakhir (basis gerilyanya masing-masing) terus mengadakan aktivitas-aktivitas serangan-serangan gerilya terhadap musuh dengan mendapat dukungan dari sebagian terbesar penduduk/masyarakat setempat. Bagaikan ikan dalam air Brigade III dengan masyarakat Besuki dalam perjuangan merebut/mempertahankan Kemerdekaan Tanah Air dan Bangsa Indonesia, satu dengan yang lainnya saling memerlukan.

 

KOMANDAN BRIGADE.III BESERTA BEBERAPA ANAK BUAHNYA GUGUR.

Kemalangan besar menimpa Brigade III, khusus Komando Brigade III beserta Batalyon 25. Dalam perjalanannya penyusupan (Wingate-action) setelah dari Aengsono/Kaliglagah sampai di daerah Kecamatan Mumbulsari (Mayang), mengalami kemalangan berganda akibat pertempuran-pertempuran dahsyat. Pada waktu terjadi pertempuran sengit di desa Darungan/Tanggul, seorang anggota anak buahnya yaitu Prajurit Dugel gugur. Pada waktu terjadi pertempuran seru di desa Poma (Lojajar/Puger), Sersan Eddy tertangkap.

Kemudian dalam suatu pertempuran yang amat dahsyat di desa Gayasan (Jenggawah) pada tanggal 6 Februari 1949, Letnan II Wagino Komandan Seksi dari Kompi I (Soetojo) kena tembak dan kemudian tertangkap, selain dari itu sejumlah ± 32 orang anak buah gugur sebagai Kusuma Bangsa dan beberapa orang lagi tertangkap. Pihak musuk sendiri juga tidak sedikit menderita kerugian berupa korban-korban mati/luka-luka. Musuh tidak tinggal diam dan terus berusaha untuk menghancurkan Brigade.III dengan mengerahkan sebanyak-banyaknya kekuatannya untuk mengadakan pengejaran terhadap Brigade.III.

Setelah pertempuran-pertempuran yang amat dahsyat di desa Gayasan itu, Komando Brigade III beserta Batalyon 25 mundur ke desa Karangkedawung, Kecamatan Mumbulsari/Kawedanan Mayang. Pengundurannya ini tentu tidak lepas dari pengintaiannya mata-mata musuh. Hal ini terbukti, setelah pada tanggal 7 Februari 1949 dalam Komando Brigade III beserta pengawalnya tiba di desa Karangkedawung tersebut, maka pada esok harinya tanggal 8 Februari 1949 dari sejak fajar menyingsing hingga kira-kira jam 09.00 musuh dengan mengerahkan kekuatannya kira-kira 1  Batalyon mengepung desa tersebut dan melancarkan serangan fajar dengan tiba-tiba dan terdahsyat.

Dalam suatu pertempuran yang maha sengit di desa Karangkedawung inilah Komandan Brigade.III (Let.Kol Moch Sroedji), Kepala Kesehatan tentara merangkap Residen Militer Besuki (Let Kol Dr.R.M.Soebandi) gugur sebagai ratna kesuma bersama-sama dengan beberapa anak buah pengawal-pengawalnya yang tulus ikhlas/setia pada pengabdian perjuangan. Dalam pertempuran ini pihak lawan pun menderita banyak korban pula. Jenazah Let Kol Moch Sroedji diperlakukan sangat kejam dan penuh penghinaan oleh pihak Belanda (musuh). Sebagian jari-jari tangannya dipotong dan kedua belah matanya dicukil (dilepaskan dari tempatnya), dan jenazah di pertontonkan pada penduduk Kota Jember serta ditempatkan tergelimpangkan di halaman Hotel Jember. Sedangkan jenazah almarhum Let.Kol.Dr.Soebandi baru dapat diketemukan 1 tahun kemudian setelah gugurnya, yaitu diketemukan pada tahun 1950, atas jasa-jasa team pencari Kapten dr.Soegeng.

Peristiwa Pertempuran Karangkedawung ini merupakan kemalangan Brigade.III yang terbesar dan menimbulkan keharuan yang sangat dalam.

 

MAYOR IMAM SOEKARTO TAMPIL KE DEPAN MEMEGANG KEMUDI ATAS BRIGADE.III.

Dengan gugurnya “SENOPATI” Brigade.III yaitu Komandan Brigade.III Let.Kol MOCH SROEDJI, Belanda mengharapkan seluruh Brigade III akan menghentikan perlawanannya dan menyerahkan diri. Harapan Belanda ini adalah sia-sia dan iapun salah dugaan dan perhitungan. “Semboyan Brigade.III,” Satu jatuh sepuluh bangun dan sepuluh jatuh seratus bangun Rawe-rawe rantas malang-malang putung tidak dimengerti olehnya. Memang tidak diingkari, gugurnya Let.Kol.Moch Sroedji menimbulkan keadaan panik sementara dikalangan anak buah dalam beberapa hari saja. Tetapi Komandan-komandan Pasukan Bawahan yaitu Komandan-komandan Batalyon, Kompi, Seksi bahkan Komandan-komandan Regu dalam waktu kurang lebih 2 pekan saja dengan usaha yang serius dan penuh kebijaksanaan telah dapat mengatasi kepanikan terssebut.

Setelah gugurnya Let.Kol.Moch Sroedji dilaporkan pada atasan (Panglima Divisi.I./Jatim) yang pada saat itu berada di daerah pegunungan Willis, maka Panglima Divisi.I., segera menetapkan mengangkat Let.Kol.Abd.Rivai sebagai Komandan Brigade III. Let.Kol.Abd.Rivai pada saat itu mengikuti gerakan Bn 27 (Macan Putih) di daerah Banyuwangi. Pengangkatan ini berlaku mulai tanggal 21 Maret 1949. Dari sejak gugurnya Let.Kol.Moch.Sroedji tanggal 8 Februari 1949 hingga tanggal 21 Maret 1949, saat pengangkatan Let.Kol.Abd.Rivai tersebut, pimpinan Brigade.III di wakili (dipegang) oleh Brigade Mayor yaitu Mayor Imam Soekarto.

 

LET.KOL.ABD.RIVAI TERTANGKAP DAN DIPERALAT.

Lagi nasib sial menimpa Brigade.III. Let Kol Abd Rivai sesungguhnya adalah seorang Perwira yang cakap dan cukup terkenal pula di kalangan anak buah tentang keberaniannya baik pada masa-masa sebelum clash pertama (Agresi Militer Belanda yang I – Red) maupun selama clash pertama, dan sebenarnya cakap pula memimpin Brigade.III. Namun tiba-tiba pada tanggal 25 Juni 1949 dalam suatu pertempuran yang seru dahsyat di Alas Banyulor di daerah Banyuwangi, Let Kol Abd Rivai menyerah pada musuh.

Sangat di luar dugaan seluruh warga Brigade.III dan seluruh masyarakat militan di daerah Besuki. Let Kol Abd Rivai yang semula di bangga-banggakan oleh seluruh Brigade.III, setelah menyerah dan agaknya karena menderita tekanan-tekanan lahir/batinnya, kemudian ternyata jiwa patriotisme luntur dan ia dapat diperalat sedemikian rupa oleh musuh, sampai-sampai ia mengeluarkan perintah agar seluruh Brigade.III menghentikan perlawanan dan menyerahkan semua alat-alat perang pada musuh. Dia menganjurkan supaya seluruh anak buahnya menyerahkan diri pada musuh, sebab katanya, apabila diteruskan perlawanan maka hanya menimbulkan korban yang sia-sia saja. Sikap serta pernyataan-pernyataannya itu seolah-olah sekaligus menghapuskan semua pujian (jasa yang telah ia miliki sebelumnya). Pernyataan dan anjuran-anjurannya itu sangat melukai batin dan perasaan anggota-anggota anak buahnya yang tetap gigih berjuang; disamping itu juga merendahkan martabat Brigade.III secara keseluruhan dan menodai kehormatan almarhum Pahlawan-pahlawan Kemerdekaan pada umumnya dan khususnya yang berasal dari warga Brigade.III.

Anjuran dari Let Kol Abd Rivai agar seluruh Brigade.III menghentikan perlawanan diri beserta alat-alat senjata, mengakibatkan timbul kepanikan sementara lagi pada sementara anak buah Brigade.III. Dan dalam keadaan sebagian sementara anak-anak buah Brigade.III mengalami panik itu, musuh melancarkan operasi pembersihannya dengan mempergunakan bekas-bekas anak buah Brigade.III yang tertangkap dan telah luntur imamnya, semangat serta kesetiaan pada R.I. perjuangan, yang dapat diperalat untuk menunjukan tempat-tenpat persembunyian kawan-kawannya, bahkan sampai-sampai menangkapnya sendiri. Bekas Letnan.II Soewojo. Letnan II Soedjalmo, Letnan II Abdulrachman dan masih ada lagi lainnya merupakan pemegang peranan utama juga, dalam pengkhianatan terhadap kawan-kawannya, disampingnya Let Kol Abd Rivai tersebut. Maka akibatnya banyaklah lagi jumlahnya anggota-anggota Brigade.III yang tertangkap.

Melihat keadaan yang amat membahayakan kehidupan Brigade.III itu, maka untuk kesekian kalinya Brigade Mayor, Mayor Imam Soekarto tak menunggu lama segera tampil ke depan memegang tampuk pimpinan Brigade.III sambil menunggu keputusan lebih lanjut dari atasan. Dengan penuh keberanian/keuletan dan kebijaksanaan beliau usahakan memerangi kepanikan yang berkacamuk pada diri sementara anak buah Brigade.III. Kontra propaganda terhadap musuh dilakukan, instruksi-instruksi lanjutan perjuangan dikeluarkan, situasi Brigade.III dalam keseluruhannya diberitahukan pada pimpinan-pimpinan (Komandan-komandan Batalyon maupun Kompi), sehingga membangkitkan kembali semangat perjuangan/perlawanan pada sementara anak buah yang terserang panik. Tindakan-tindakan dan kebijaksanaan yang diambil oleh Mayor Imam Soekarto mendapat dukungan sepenuhnya dari Komandan-komandan bawahan (Batalyon dan Kompi).

Akhirnya dalam waktu singkat saja panik dapat teratasi, dan perlawanan gerilya terus berlangsung dengan serunya. Maka bersinar terang kembalilah cahaya mataharinya Brigade.III setelah dalam sementara hari tertutup oleh kabut hitam yang merendupkan cahaya, Iman perjuangan, keyakinan akan kemenangan pada akhir perjuangan menebal lagi pada seluruh anggota Gerilyawan Brigade.III khususnya dan seluruh Gerilyawan dalam daerah Karesidenan Besuki umumnya.

Batalyon-batalyon 25, 26, 27 dan Deppot menghebatkan kembali aktivitas perlawanan mereka masing-masing terhadap musuh. Dan beberapa bukti dari kegiatan perlawanan yang gigih dan pantang mundur dari Batalyon-batalyon itu antara lain pertempuran-pertempuran sbb :

  1. Letnan II Harjoto dari Bn 26 gugur bersama dengan 18 orang anak buahnya dalam suatu pertempuran sengit di desa Patirana (Bondowoso). Musuh banyak menderita kerugian/korban juga.
  2. Letnan I G.Hartono dari Depot Batalyon gugur dalam suatu pertempuran sengit di Desa Sukorambi Jember. Juga musuhmenderita kerugian.
  3. Letnan I Karsono dari Bn 26 gugur bersama dengan 14 orang anak buahnya dalam suatu peretempuran sengit di daerah Situbondo. Musuh pun tak sedikit menderita korban.
  4. Letnan II S.Prajitno Pahlawan jagoan dari Komando Brigade III gugur bersama beberapa orang anggotanya waktu menyerang kedudukan musuh di daerah Arjasa (Jember). Sedang dipihak lawan banyak jatuh korban pula.
  5. Kopral Matto dari Bn 25 gugur bersama 7 orang anak buahnya dalam suatu pertempuran seru di Desa Karangpakem Curahlele (Jember). Musuh ± 15 orang tewas/luka-luka.
  6. Pasukan Kapten Soedirman Bn 27 dalam suatu pertempuran seru di hutan Sugihwaras pada tanggal 9 Juli 1949 menewaskan musuh 11 orang. Kita 4 orang prajurit tertawan.

Dan masih banyak lagi kegiatan-kegiatan gerilya yang lainnya dan dahsyat-dahsyat pula. Pendek kata perlawanan gerilya secara gigih seluruh Brigade.III berlangsung sampai saat adanya perintah penghentian tembah-menembak.

 

*****

 

GENCATAN SENJATA DISUSUL DENGAN PENYERAHAN KEDAULATAN.

Bangsa Indonesia mencintai perdamaian tetapi lebih mencintai kemerdekaan. Bukti dari pada cita-citanya pada perdamaian tersebut telah berkali-kali ditunjukkan pada dunia Internasional, yaitu semenjak perundingan-perundingan LINGGARJATI dan RENVILLE. Sambil bertempur mempertahankan Kemerdekaan, kita Bangsa Indonesia tak jemu-jemunya mengusahakan jalan damai tetapi yang menguntungkan bagi pihaknya. Setelah musuh merasakan hebatnya perlawanan nasional yang dilakukan oleh bangsa Indonesia terhadapnya dalam Perang-Kemerdekaan Kedua itu dan lebih terpepet lagi dengan tekanan-tekanan dari Dunia Internasional (P.B.B.), maka akhirnya musuh mengajak berunding lagi. Pemerintah Republik Indonesia bersedia menjalani ajakan ini, dan dengan demikian bersedia menempuh jalan damai lagi.

Perundingan kali ini disebut perundingan MEJA-BUNDAR. Agar memungkinkan perundingan berjalan lancar dan sukses, maka kedua belah pihak harus melaksanakan genjatan senjata. Maka pada saat-saat menghebatkan dan dahsyatnya aksi-aksi perlawanan gerilya oleh pejuang-pejuang kemerdekaan, patriot-patriot bangsa Indonesia pada umumnya dan khususnya T.N.I., terdengarlah lagi canang dari Pemerintah Pusat Republik Indonesia, berupa perintah penghentian tembak-menembak dari Presiden/Panglima Tertinggi A.P.R.I., Bung Karno, yang diucapkan pada tanggal 3 Agustus 1949.

Sekali lagi disiplin yang tinggi ditunjukkan kembali pada dunia Internasional oleh T.N.I. Perintah gencatan senjata dari negara melalui pucuk pimpinan A.P.R.I. di taati, sekalipun T.N.I. tetap sangki dengan kejujuran Belanda. Mulai tanggal 5 Agustus 1949 Brigade III Stand-fast atau Stand-by pada kedudukan terakhir, walaupun permusuhan mulai dihentikan. Dislokasi Brigade III pada saat Case-fire order mulai berlaku sbb :

  • Komando Brigade III di Desa Suko Jember.
  • Komando Bn 25 di Kerang bayat.
  • Komando Bn 26 di Tegalampel.
  • Komando Bn 27 di Krikilan.

Perjuangan selanjutnya beralih dari letusan peluru ke perundingan. Kemudian setelah genjatan senjata mulai berlaku, diadakanlah kontak/hubungan oleh kedua belah pihak, untuk follow-up-nya. Kontak pertama yang dilakukan terhadap pimpinan Tentara Belanda terjadi pada tanggal 15 Agustus 1849 di Jember. Kapten Soedirman bertindak selaku “Liason-officer” (Perwira-Penghubung). Sebagai hasil dari kontak pertama ini, maka kedua belah pihak mulau tanggal 18 Agustus 1949 menghentikan permusuhan.tembak-menembak. Sekalipun penghentian tembak-menembak sudah berlaku, Brigade III tetap siap sedia dan waspada untuk menjaga segala kemungkinan dead-locknya (buntunya) perundingan K.M.B.

Sesudah jalan yang dirintis dalam kontak pertama tanggal 15Agustus 49 menunjukkan untuk dilalui selanjutnya menuju ke meja perundingan maka Penjabat Komandan Brigade III Mayor Imam Soekarto cancut taliwanda lagi melakukan diplomasi. Jika pada tahun 1945/1946 diwaktu menghadapi penyelesaian urusan POPDA dan APWI/RAPWI beliau telah dapat menunjukkan kecakapan dan kemahiran serta keunggulannya dalam arena diplomasi, maka dalam perundingan menghadapi Belanda kali ini beliaupun ulet, gigih dan pantang mundur, ternyata pula beliau sebagai seorang militar dan diplomat yang tangguh dan dikagumi oleh lawannya.

Perundingan lanjutan untuk mengatur segala sesuatu yang bersangkutan dengan gencatan senjata dan persiapan-persiapan untuk mengambil alih tanggung jawab keamanan di daerah Karesidenan Besuki, dilakukan antara Mayor Imam Soekarto dengan Letkol Inf. P.A. Muller – Komandan Rayon Ke V Jawa Timur, selaku Komando Tertinggi Tentara Belanda di Daerah Besuki, terjadi pada tanggal 20 Agustus 1949. Kemudian disusul lagi perundingan pada tanggal 2 September 1949. Dalam kedua perundingan tersebut Mayor Imam Soekarto mendapat dukungan sepenuhnya dari semua Komandan-komandan bawahannya (Komandan-komandan Batalyon khususnya) serta Perwira Staf Brigade III. Alhasil perundingan-perundingan selalu menguntungkan pihak T.N.I. dan Brigade III, antara lain turunnya pasukan-pasukan Brigade III ke kota-kota, pembentukan Kontak Pos Brigade III di Kota Jember, dan soal penarikan Tentara Belanda dari daerah Karesidenan Besuki, soal-soal O.W. Polisi N.D.T. dll, yang prinsipiil, kendatipun dalam perundingan itu masih ada juga pengorbanan soal-soal yang sekunder.

Pada tanggal 7 September 1949 Kontak Pos Brigade III dibentuk di kota Jember, bertempat di rumah kediaman dokter Mahzar, di bawah pimpinan Perwira Seksi I Brigade III yaitu Kapten Soedirman. Sedang pada tanggal 17 Agustus 1949 Brigade III mengadakan upacara Peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan bertempat di desa Suko Jember.

Sementara itu Batalyon-batalyon 25, 26 dan 27 serta Depot Batalyon sambil senantiasa siap siaga dan waspada mulai mengadakan konsolidasi pasukan-pasukannya.

Situasi di daerah Karesidenan Besuki sesudah berlakunya gencatan senjata ternyata memungkinkan bagi Panglima Divisi I untuk mengadakan inspeksi atau peninjauan ke daerah ini.

Maka pada tanggal 10 September 1949 Panglima Divisi I T.N.I. yaitu Kolonel Sungkono mengadakan peninjauan ke Brigade III dan di daerah Karesidenan Besuki dengan memberikan penjelasan-penjelasan tentang pelaksanaan gencatan senjata. Ternyata situasi di daerah Besuki setelah berlakunya gencatan senjata tidak mengecewakan Panglima Divisi I, utama sekali disiplin pasukan-pasukan Brigade III di dalam melaksanakan cease-fire dan hasil-hasil perundingan yang dilakukan oleh Pimpinan Brigade III membanggakan hati Panglima Divisi I.

Sebagaimana dimaklumi oleh Pimpinan Divisi I, bahwa Brigade III dalam menjalankan Perang Kemerdekaan ke II banyak mengalami kesusutan tenaga-tenaga khususnya Perwira-perwira Staff Brigade sebagai akibat gugur dan tertangkap oleh musuh.

Maka untuk memperkuat kembali Staf Brigade III disusupkan beberapa Perwira dari Staf Divisi I, masuk ke Daerah Besuki, dan mereka para Perwira itu di bawah pimpinan Mayor Soerodjo yang pada tanggal 12 Sepetember 1949 tiba di Suko Jember dan laporan pada Pjs Komandan Brigade III.

Sambil mengikuti dengan teliti/seksama berita-berita tentang kemajuan-kemajuan yang diperoleh oleh Delagasi R.I. di Konferensi Meja Bundar, maka Brigade III berusaha sekuat tenaga untuk menciptakan situasi yang menguntungkan bagi R.I.

Seribu satu kegiatan dicoba dan dilaksanakan dengan konsekuen. Kegiatan-kegiatan itu antara lain sbb :

  • Pada tanggal 2 Oktober 1949 dilaksanakan konsolidasi atas Staff Brigade III dan Staf Tarritorium militar (S.T.M.) Besuki.
  • Pada tanggal 5 Oktober 1949 Komando-komando Batalyon turun dari kedua-duanya yang kerakhir dan mendekati kota.

Dislokasi setelah turun sbb :

  1. Komando Bn 25 di Pondokdalan (Tanggul).
  2. Komando Bn 26 di Tegalampel (Bondowoso).
  3. Komando Bn 27 di Krikilan (Banyuwangi).

Brigade III mengadakan Upacara Hari Peringatan Hari Angkatan Perang 5 Oktober 1949 bertempat di Desa Sukorambi (Jember). Dalam kesempatan ini diberikan pula tanda-tanda jasa berupa Bintang Gerilya secara simbolis, untuk Kesatuan maupun perorangan almarhum pahlawan-pahlawan dari Brigade III yang telah gugur dalam perang-perang kemerdekaan ke – I dan ke – II.

Patut dituliskan disini bahwa dalam upacara peringatan pada tanggal 5 Oktober 1949 ini Komandan Tentara Belanda di daerah Besuki diundang dan ternyata hadir. Ia dapat menyaksikan sendiri defille yang disajikan dalam rangka peringatan tersebut. Deffile pasukan satu Kompi yang dikerjakan dengan sikap tegap oleh Kompi I Batalyon 25 yang dipimpin oleh Letnan II Murdjadi yang secara simbolis mewakili seluruh Brigade III.

S.W.K. stalsel dijalankan. Rapat Brigade III untuk antara lain menentukan sikap/tindakan pada non-cooperatoran diadakan pada tanggal 12 Oktober 1949 dimulai pendaftaran para non-cooperatoran. Dan pada tanggal 18 Oktober 1949 Brigade III mengadakan rapat bersama dengan para non-cooperatoran, untuk merundingkan segala sesuatu dalam kemungkinan-kemungkinan persiapan guna kelak mengambil alih tanggung jawab pimpinan Pemerintahan/Umum plus jawatan-jawatan sipil lainnya.

Pada tanggal 21 Oktober 1949 Brigade III mengadakan rapat keduanya untuk menentukan kebijaksanaan dalam pembagian tugas di bidang operatif dan Territorial.

Pada tanggal 23 Oktober 1949 Sub Teritorium Militar Besuki dapat dibentuk dan di bawah pimpinan Mayor Soerodjo. Kemudian STM mulai tanggal 25 Oktober melanjutkan konsolidasi kedalam dengan antara lain menarik perwakilannya yang berada di Lebakroto (Semeru-Selatan) pada tanggal 28 Oktober 1949 sudah masuk ke Jember.

Pada tanggal 29 Oktober 1949 Brigade III mengadakan rapat bersama dengan Pamongpradja dan Polisi N.J.T. (Negara Jawa Timur) mengenai bantuan pemeliharaan Kemanan kepada Tentara. Keesokan harinya tanggal 30 Oktober 1949, bertempat di Bondowoso di bentuklah Panitia Penjokong Kemanan Karesidenan Besuki. Panitia ini berada di bawah pimpinan/Residen Besuki.

Guna memberikan penerangan-penerangan/penjelasan-penjelasan pada masyarakat, dirasa perlu membentuk Seksi Penerangan ini di bawah pimpinan Lts. Imam Soetrisno. Bersamaan dengan ini Jawatan Penerangan Republik Indonesia di Karesidenan Besuki di Sub ordinasikan pada Seksi Penerangan Brigade II : S.T.M.

Kemudian pada tanggal 3 November 1949 sampai dengan 28 November 1949 Seksi Penerangan Brigade III dan S.T.M. dibawah asuhan bersama Lts I Imam Soetrisno dan Dr.Abd Manap giat mengadakan kampanye penerangan pada masyarakat di seluruh Karesidenan Besuki, mengenao asal-asal pemeliharaan keamanan. Tugas Seksi ini berhasil dengan sukses besar.

Pada tanggal 5 Desember 1949 Briagede III mengadakan rapat bersama lagi dengan PamongPradja dan Polisi Negara Jawa Timur (NJT), membicarakan soal-soal keamanan lebih lanjut.

Siatuasi keadaan dan keamanan daerah Karesidenan yang semakin maju itu memungkinkan Panglima Divisi I/Jatim Kolonel Soengkono mengadakan inspeksi/peninjauannya yang kedua ke daerah Karesidenan Besuki. Peninjauan neliau yang kalinya itu dilakukan pada tanggal 7 Desember 1949.

Sementara itu dirasa perlu mendirikan Cabang-cabang Panitia Penyokong Keamanan Karesidenan Besuki (PPKKB) di Kabupaten-kabupaten.

Dalam pada itu, dimana berita-berita mengenai jalannya perundingan K.M.B. selalu memberikan harapan besar bahwa kemenangan pada pihak Republik Indonesia, hal ini telah mempengaruhi dan menggoncangkan kedudukan sementara A.P. Algemene Polisi dan O.W. yang memang berjiwa Bunglon. Banyak diantara mereka ini yang karena kegoncangan jiwanya dan ke khawatiran hatinya kemudian sama melarikan diri dan mereka menggabungkan diri pada T.N.I. sama membawa sekali senjata yang ada padanya. Keadaan atau kejadian-kejadian mengenai pelarian-pelarian O.W. dan A.P. ini memaksa pada pimpinan Tentara Belanda untuk minta berunding dengan Komandan Brigade III. Maka pada tanggal 12 Desember 1949 bertempat di Markas Brigade III di Suko Jember diadakan perundingan antara Komandan Brigade III dan Komandan Tentara Belanda. Hasil-hasil perundingan ini tetap menguntungkan Brigade III (O.W/A.P) yang melarikan diri dan menggabungkan diri pada T.N.I. bersama senjata-senjatanya mereka itu, menunjukkan adanya disiplin yang jelek dari pihak Belanda. Namun demikian mereka itu tidak dapat diserahkan kembali pada Belanda oleh Brigade III.

Bahwa berita-berita resmi yang diterima Brigade III dari atasannya (Pemerintah Pusat dan Komando Divisi I T.N.I.) mengenai jalan K.M.B dan hasil-hasilnya membawa kemenangan di pihak R.I., dan bahwa penyerahan Kedaulatan akan dilakukan sebelum akhir Desember 1949, maka hal ini lebih mendorong Brigade III untuk lebih menggiatkan diri, meng-konsolidir kemanan daerahnya dan menyiapkan segala sesuatunya untuk sewaktu-waktu menerima penyerahan tanggung jawab Pemerintahan Daerah Besuki dari Komando Militer Daerah Besuki dari pihak Belanda.

Guna memperoleh bahan-bahan yang lebih lengkap dan kongkrit, maka pada tanggal 15 Desember 1949 bertempat di ruangan sidang Kantor Kabupaten Jember oleh Brigade III diadakan konferensi bersama dengan pihak-pihak Tentara Belanda, PamongPraja, Polisi NJT, membicarakan hal penyelenggaraan kemanan selanjutnya bagi Daerah Besuki.

Lantas pada tanggal 17 Desember 1949 Brigade III dan S.T.M. mengambil tindakan meng-Sub Ordinasikan Jawatan Penerangan Belanda yaitu V.D. dan R.V.D . kedalam Seksi Penerangan Gupenur Militar Jawa Timur (G.M.D.T.) di Daerah Besuki.

Akhirnya perjuangan bangsa kita Indonesia pada tahun ini berakhir dengan kemenangan di pihak kita walaupun masih harus berkorban juga dalam hal-hal yang sekunder. Perjuangan diplomasi yang dilakukan di meja bundar (perundingan K.M.B.) oleh Bangsa Indonesia melalui wakil-wakilnya yaitu Delagani R.I. memperoleh suksed besar, kemenangan yang gilang-gemilang. Perjuangan diplomasi tersebut simultan dengan perjuangan bersenjata. Konferensi Meja Bundar (K.M.B.) menelurkan keputusan dan persetujuan antara lain :

  1. Penyerahan Kedaulatan Indonesia Kepada Republik Indonesia Serikat.
  2. Penarikan seluruh Tentara Belanda dari Indonesia.

Untuk di daerah Besuki guna merealisasikan hasil-hasil kemenangan perjuangan bersenjata dan diplomasi tersebut, sebelum dilakukannya Penyebaran Kedaulatan Indonesia kepada Republik Indonesia Serikat (R.I.S.), telah dilakukan tindakan-tindakan yang berupa :

  1. memasukkan ke dalam kota yang telah direncakanan lebih dahulu semua kesatuan-kesatuan Brigade III.
  2. mengambil alih tanggung jawab Komando Militer Daerah dari pihak Belanda.

Maka pada akhirnya sebagai penutup perjuangan Brigade III yang berlangsung dalam tahun 1949, pada pagi-pagi hari tanggal 25 Desember 1949 seluruh Kesatuan Batalyon+Kompi, dari Brigade III termasuk Komando Brigade III sekali turun dari kedudukan (dislokasi)nya yang terakhir dan masuk ke Kota yang telah ditentukan sbb:

  1. Komando Brigade III masuk ke Kota Jember.
  2. Komando Batalyon 25 di Kota Tanggul.
  3. Komando Batalyon 26 di Kota Bondowoso.
  4. Komando Batalyon 27 di Kota Banyuwangi.

Kemudian pada keesokan harinya yaitu pada tanggal 26 Desember 1949 pada jam 18.00, bertempat di Plaatselicke Militair Commando di Bondowoso dilakukan penyerahan Daerah dan tanggung jawab Komando Militer Daerah Besuki, dari tangan Let.Kol.P.A.Muller sebagai Komandan Rayon V Belanda di daerah Jawa Timur ke tangan Mayor Imam Soekarto, selaku Komandan Militer Daerah Besuki (juga Komandan Brigade III Damarwulan). Penyerahan ini disaksikan oleh Pembesar-pembesar Militer Belanda dan Pembesar-pembesar T.N.I. serta Pembesar-pembesar Sipil R.I. dan Sipil dari Negara Jawa Timur (N.J.T.) di Daerah Besuki.

Setelah selesai Upacara penanda-tanganan Naskah-Timbang Terima para rombongan Pembesar-pembesar tersebut terus menuju ke aloon-aloon Bondowoso, dimana di aloon-aloon ini Rakyat telah lama menunggu dan menantikan hasil-hasilnya, lalu disusul dengan upacara seperlunya. Pada upacara ini baik Komandan Brigade III/Damarwulan maupun Penjabat Residen Besuki (R.A. Saleh kusumowinoto), menyampaikan pidato-pidato sambutan yang ditujukan kepada masyarakat di daerah Besuki; isi pidato-pidati beliau itu pada pokok nya mengharapkan kepada seluruh Rakyat dan masyarakat dari Daerah Besuki untuk memberikan bantuannya yang sebesar-besarnya guna pemeliharaan Keamanan dan Ketertiban Daerah. Selain itu oleh Komando Brigade III diumumkan sekali maklumat berlakunya jam malam untuk seluruh Karesidenan Besuki mulai jam 22.00 s/d 05.00. Juga disampaikan maklumat yang berisi seruan kepada masyarakat agar masyarakat ikut serta membantu terlaksanakannya Keamanan dan Ketertiban Daerah. Kedua maklumat dari Komando Brigade III ini diumumkan oleh Brigade Mayor yaitu Mayor Daraan Iru. Dengan peristiwa ini berakhirlah sudah kekuasaan militar Belanda di Daerah Besuki, dan tampilah kembali Brigade III mendarma bhaktikan wewenang atau kekuasaanya kepada dan untuk masyarakat di Daerah Besuki khususnya dan pada Bangsa Indonesia pada keseluruhannya.

Penyerahan Kedaulatan atas Indonesia kepada R.I.S. yang dilakukan pada tanggal 27 Desember 1949 di Jogja, Amsterdam dan Jakarta, benar-benar merupakan suatu kenyataan peristiwa bersejarah bagi baik Bangsa Indonesia maupun Bangsa Belanda. Akan tetapi bagi Bangsa Indonesia peristiwa ini lebih-lebih penting dinilai artinya; yaitu suatu hasil Kemenangan Perjuangan yang gilang gemilang walaupun masih ada minus-minus nya artinya belum 100% seperti yang dikehendakinya. Dan Rakyat dari Karesidenan Besuki pada khususnya Rakyat seluruh Indonesia pada umumnya : menyambut kemengan gemilang yang dicapai pada akhir usia tahun 1949 ini dengan menyarukan pekik perjuangan Kemerdekaan yang gegap-gempita, gemuruh bagaikan guntur yang sahut-menyahut : Merdeka ! Merdeka! Sekali Merdeka Tetap Merdeka !

Kesimpulan :

  1. Suatu Perjuangan yang bertujuan luhur dan suci atas dasar tuntutan hak, keadilan dan kebenaran, jika dilaksanakan dengan tekun, penuh keberanian, keyakinan dan kepercayaan atas kekuatan diri sendiri, sekalipun harus meminta pengorbanan-pengorbanan yang luar biasa banyak dan besarnya, pada akhirnya perjuangan sedemikian cepat atau lambat akan memperoleh kemenangan akhir. Hal ini ternyata telah dibuktikan oleh Bangsa Indonesia yang telah bertahun tahun lamanya (sedikitnya 50 tahun) telah dengan gagah berani dan tekunnya, penuh keyakinan dan kepercayaan atas diri sendiri berjuangan perngorbanan yang luar biasa merebut kembali Kemerdekaannya, dan akhirnya berhasil menang.

 

  1. Brigade III Damarwulan dalam rangka perjuangan Bangsa Indonesia merebut kembali Kemerdekaan, sebagai salah satu anak kandung Rakyat Indonesia, telah ikut mengabdikan diri dan memberikan sahamnya yang tidak sedikit, sebagaimana mungkin yang diberikan oleh kesatuan-kesatuan yang lainnya. Selama perjuangan fisik, perjuangan bersenjata yang berlangsung selama 4 tahun (Agustus 1945 s/d Desember 1945) telah ratusan korban yang jatuh dari kalangan atau warga Brigade III gugur, cacad, sebagai tanda bukti cintanya kepada bangsa dan tanah air Indonesia. Teman-teman pahlawan yang tersebar di pelosok-pelosok daerah Karesidenan Besuki menjadi saksi dan bukti bagi Sejarah Nasional Bangsa Indonesia dan Sejarah Angkatan Perang Republik Indonesia.

 

  1. Wilayah Karesidenan Besuki sebagai salah satu daerah Indonesia yang kaya dan subur, dengan jaringan-jaringan lalu lintas jalan dan kereta api yang baik dan luas, dipandang dari sudut militer adalah daerah yang amat penting. Itulah salah satu sebabnya mengapa Belanda dahulu dalam melakukan agressi nya ke I terlebih dahulu berusaha sekeras nya untuk merebut dan menduduki wilayah Karesidenan Besuki. Dan selama 2 tahun wilayah Besuki menjadi daerah pendudukan musuh, 1 tahun mengalami kekosongan dari kekuatan pasukan karena ditinggal Hijrah, sehingga tugas Brigade III amatlah beratnya.

 

  1. Waktu berhijrah selama 1 tahun banyaklah suka-duka yang dialami yang bersifat lahir dan batin. Ikut mengambil bagian aktif dalam memadamkan “Pemberontakan Madiun”. Demikian pula pada waktu “Wingate-action” beban yang dipikul oleh Brigade III terlebih-lebihlah beratnya.

 

  1. Brigade III/Damarwulan mulai semenjak masih bernama BKR/TKR Resimen III dan IV, kemudian Resimen 40/Damarwulan. Sampai menjadi Brigade III/Damarwulan dalam berdharma bhakti melakukan perjuangan Bangsa yang suci dan luhur, yaitu ikut merebut dan mempertahankan Kemerdekaan telah mengalami tujuh kali pergantian Komandan sebagai pengemudi Bahtera Hidup Brigade III. Walaupun demikian karena kekompakan seluruh Brigade III dan disiplin yang hidup dan membaja dikalangan warganya, disempurnakan oleh ketaatan dan kepatuhan pada atasan sebagai perwujudan kesetiaan pada perjuangan dan Negara, maka perjuangan Brigade III tetap bergelora sekalipun tidak lepas dari gelombang-gelombang pasang-surutnya arus perjuangan. Dan akhirnya keluar, tersebut juga, sebagai salah satu pemenang.

 

  1. Bagaimanapun juga lengkap dan modern nya persenjataan yang dimiliki oleh anggota Tentara Sewaan disiplin dari Tentara demikian tak akan dapat menandingi/mengalahkan baiknya disiplin yang dimiliki oleh Tentara Rakyat (dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat), seperti misalnya T.N.I. Lagi pula anggota Tentara Sewaan itu tidak bisa mendapatkan tempat di hati r Sebaliknya anggota Tentara Nasional, tentunya mendapat tempat yang baik di hati rakyatnya.

 

Jember, 13 Maret 1963

Disusun oleh :

Dinas Sejarah Militer A.D.

Resimen Infantri 19

K e p a l a

( M. MOCH. DJOERI )

LETTU/103754.—

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SEJARAH KEPEMIMPINAN ALMARHUM LETKOL MOCH.SROEDJI

SELAKU KOMANDAN BRIGADE III/DAMARWOELAN, DIVISI I.

T.N.I./JAWA TIMUR.

 

Hijrah di JATIM adalah sebagai akibat dari persetujuan RENVILLE, dan keistimewaan karena disamping menjalankan perintah Hijrah sebagai pengosongan daerah-daerah yang harus dikuasai Belanda, gerakan Tentara tetap ditujukan untuk mempersiapkan diri guna peperangan jangka lama dengan bertemakan GERILYA.

Gerilya Indonesia berhasil, dikarenakan dapat bertahan lama, disamping itu menang karena kesadaran, MENTAL Ideologi Moral yang tinggi yang menjadi senjata dahsyat dalam peperangan ini yang dengan sendirinya, karenanya dapat banyak keuntungan dan banyak berhasil dalam tiap-tiap gerakannya.

 Hijrah di JATIM terdapat di daerah Besuki dan Madura yang dilakukan masing-masing oleh Resimen 40/DAMARWOELAN dan Kesatuan JOKOTOLE dari Madura.

 

HIJRAH RESIMEN 40 “DAMARWOELAN”

Dari daerah Besuki yang berhijrah ke daerah pedalaman bukanlah melalui Anggauta T.N.I yang organik dan administratif masuk kedalam RESIMEN 40 DAMARWOELAN saja, tetapi boleh dikatakan adalah dari segala macam golongan pejuang yang militan, baik dari T.N.I. sendiri, kelasykaran, pegawai negeri, buruh maupun rakyat biasa. Mereka ini semua mengikuti jejak dan senyawa, selangkah Resimen 40 DAMARWOELAN.

Seakan-akan daerah hijrah itu mereka telah menyerahkan baik buruk nasibnya kepada kebijaksanaan pemimpin-pemimpin dari Komando Resimen 40 “DAMARWOELAN”. Oleh karena itu Resimen 40 DAMARWOELAN mempunyai tanggung jawab yang penuh, moral maupun material dan keselamatan nasib Anggauta-anggauta yang hijrah. Kelompok-kelompok Kesatuan Hijrah yang terdiri dari macam-macam golongan itu setibanya di desa Pakisaji (Kepanjen Malang) di terima oleh suatu Panitia Hijrah yang diselenggarakan oleh Pemerintah Republik Indonesia.

Desa Pakisaji itu merupakan salah satu CORRIDOR DI GARIS DEMARKASI. Dari desa tersebut kemudian rombongan menuju ke tempat-tempat yang telah di tentukan oleh Panitia, ialah : KOTA SUMBERPUCUNG, DAMPIT, KESAMBEN, WLINGI, BLITAR dan lain-lainnya.

Pada taraf permulaan kedatangannya di daerah pedalaman Resimen 40 DAMARWOELAN di dislokasikan pasukan-pasukannya sebagai berikut:

  1. Komando Resimen 40 Damarwoelan di DARUM kemudian pindah ke Blitar.
  2. Bataliyon Gerilya ke VIII di kota Blitar kemudian pindah ke Talun.
  3. Bataliyon Gerilya ke IX di Sumbermanjing dan sebagian di Galuhan.
  4. Ke X di Gurah-Kediri kemudian pindah ke Ngunut.

Adapun pasukan-pasukan yang lain yang berasal dari ALRI, POLISI, KELASYKARAN dan lain sebagainya setelah sampai ke daerah pedalaman kemudian mereka menggabungkan diri lagi dengan induk pasukan masing-masing.

Penggabungan kembali ke induknya ini, tidak sedikit membantu meringankan beban pemikiran dan tanggung jawab KOMANDAN RESIMEN 40 DAMARWOELAN, karena dengan penggabungan kembali ini berarti segala sesuatunya yang menyangkut kepentingan pasukan dan rombongan tidak lagi di urus oleh Komando Resimen 40 DAMARWOELAN.

 

PERAWATAN PASUKAN-PASUKAN.

Selama 4 bulan di dalam daerah-daerah pedalaman Resimen 40 Kesatuan Mobil Damarwoelan mendapatkan perawatan dari Panitia Hijrah, akan tetapi setelah Panitia Hijrah selesai tugasnya, maka urusan perawatan diserahkan pada Resimen 40 Kesatuan Mobil Damarwoelan sendiri.

Mengingat keadaan perawatan sudah dilepas dari Panitia Hijrah mulai timbullah kesulitan, baik mengenai lingkungan maupun supply makanannya, yang berarti kegoncangan terhadap disiplin anak buahnya.

Pada tanggal 18 September 1948 berkobarlah pertempuran-pertempuran yang tidak terduga-duga sebelumnya, ialah adanya Peristiwa Madiun, hingga memaksa Resimen 40 Damarwoelan untuk sementara waktu mengesampingkan pelaksanaan Rekontruksi Rasionalisasi, dan mengalihkan segala waktu dan kesempatan yang ada, untuk memadamkan peristiwa tersebut.

Setelah Peristiwa Madiun maka Resimen 40 Damarwoelan yang kemudian berubah namanya menjadi BRIGADE MOBIEL DAMARWOELAN di bawah pimpinan Letkol Moch.Sroedji (Catatan: kemudian Brigade ini berubah nama kembali menjadi Brigade III/Damarwoelan) mendapat tugas untuk menghadapi kemungkinan adanya perembesan-perembesan dari pelaku-pelaku insiden Madiun itu ke daerah Blitar dan sekitarnya.

Di kota Blitar pada waktu itu di dislokasikan beberapa Kesatuan yang berasal dari lain angkatan, misalnya dari T.L.R.I (A.L.R.I) T.R.I.P, KEPOLISIAN, A.U.R.I dan Batalyon Angkatan Darat dari brigade-brigade lain.

Setelah mengkoordinir seluruh Kesatuan/Jawatan yang ada di daerah Blitar dan lain daerah untuk menyatukan Komando, maka gabungan Kesatuan-kesatuan ini diberi nama STAF GABUNGAN ANGKATAN PERANG yang disingkat (SGAP) yang menjabat Komandannya ialah LETKOL MOCH.SROEDJI, dengan yang ditunjuk sebagai Kepala Staf ialah Letkol dr.RM.Soebandi (Kepala Kesehatan Tentara Brigade Mobiel Damarwoelan). Sedangkan batalyon-batalyon nya adalah :

  1. Bataliyon Syafiudin.
  2. Bataliyon Magenda.
  3. Bataliyon Sudarman.
  4. Bataliyon Depot (Darsan Iroe ).

Dalam Operasi di daerah Blitar hasilnya dalam waktu kurang lebih 1 bulan sudah selesai dan pulih kembali aman seperti sedia kala.

Demikianlah tugas-tugas yang dibebankan oleh Brigade Mobiel Damarwoelan telah dilaksanakan dengan sukses yang sebesar-besarnya.

 

BRIGADE III/DAMARWOELAN AKHIR TAHUN 1948.

Tanpa beristirahat sedikitpun, Brigade Mobiel Damarwoelan melaksanakan tugasnya untuk memadamkan Peristiwa Madiun segera beralih kepada tugas yang baru, yaitu menyelesaikan RERA yang telah di tangguhkan untuk sementara.

Kemudian setelah selesai penyusunan Formasi Brigade maka berdasarkan keputusan Kementrian Pertahanan Republik Indonesia No.A/582/148 tanggal 25 Oktober susunan Brigade Mobiel Damarwoelan di syahkan selanjutnya Brigade ini menjadi BRIGADE III/DAMARWOELAN/DIVISI I JAWA TIMUR dan Batalyon-batalyon nya juga mendapatkan perubahan.

Kemudian Brigade III/DAMARWOELAN/DIVISI I bersama-sama dengan Brigade lainnya diresmikan pada tanggal 17 Desember 1948 jam 09.00 dengan Upacara bertempat di lapangan KUAK – KEDIRI di hadapan Panglima DIVISI I/JAWA TIMUR Kolonel Soengkono dengan Panglima Komando Jawa (Kolonel A.H. Nasution), dan para tamu lainnya.

 

PERANG KEMERDEKAAN KE 1.

Pada tanggal 15 Desember 1948 oleh Y.M. PANGLIMA BESAR APRI Jenderal Soedirman, kepada seluruh Angkatan Perang diperintahkan untuk mengadakan latihan perang-perangan secara besar-besaran. Perintah ini sebenarnya mengandung arti bahwa Angkatan Perang harus bersikap untuk menghadapi petang yang sungguh-sungguh dikarenakan perundingan Indonesia dengan Belanda di Kaliurang mengalami jalan buntu.

Tindakan pertama dari pelaksanaan Perintah ini adalah dipusatkan kepada :

  1. Persiapan pembumi hangusan vitale potensi, Communicatie dan lain-lain.
  2. Pembuatan rintangan-rintangan untuk menghambat jalannya serangan lawan.
  3. Memperlengkapi Teritoriale Organen : K.D.M.-K.O.D.M. dan Kader-kader Desa, yang segera disusul dengan instruksi-instruksi.
  4. Instruksi-instruksi Evakuasi (Pengungsian).
  5. Instruksi non-Cooperatie, dll.

Belum lagi selesai konsolidasi Divisi-Divisi dan Brigade-Brigade maka pada tanggal 18 Desember 1948 jam 23.30 Dr.Beel menyatakan tidak terikat lagi terhadap Perjanjian RENVILLE, dan sebagai kelanjutannya Agresi Belanda yang kedua dimulai. Belanda sendiri menamakan tindakannya itu Aksi Polisi Kedua. Belanda menyerang dengan cara besar-besaran.

Pada tanggal 19 Desember 1948 adalah hari tanggal pecahnya Agresi Militer ke II, Pasukan BRIGADE III dari DIVISI I JATIM mendapat perintah untuk menjalankan wingate actionnya untuk menghadapi Front Jember dengan memperhatikan jurusan Lumajang-Klakah-Jember-Banyuwangi. Maka Letkol Moch.Sroedji selaku komandan Brigade III/DAMARWOELAN segera cancut taliwondo, dan Brigade III diperintahkan berangkat.

Pada tanggal 21 Desember 1948, seluruh Brigade III/Damarwoelan dengan dipimpin oleh senopatinya sendiri yaitu Letkol Moch.Sroedji yang bergerak serempak dari kedudukan dislokasinya yang terakhir yang berpencaran itu, berangkat meninggalkan daerah pedalaman daerah-daerah Blitar dan Kediri bergerak untuk menyusup kembali ke daerah Besuki.

Dalam gerakan tersebut selalu dibantu oleh Brigade Mayornya yaitu : Mayor Imam Soekarto dan Kepala Jawatan Kesehatan Tentara Brigade III yang merangkap sebagai Residen Militer untuk daerah karesidenan Besuki, Letkol dr. RM Soebandi, serta mendapat dukungan sepenuhnya dari komandan-komandan batalyon nya.

Letkol Moch.Sroedji menentukan garis besar siasat dan taktik yang harus dilaksanakan pasukan-pasukan selama masih dalam perjalanan penyusupan, antara lain sedapat mungkin menghindari pertempuran frontal secara besar-besaran dengan lawan, sebaliknya pos-pos musuh yang kecil-kecil dan lemah harus dihancurkan dengan kekuatan lebih di pihak Briagade III.

Letkol Moch.Sroedji selaku Komandan Brigade III sungguh-sungguh menanggung beban tugas yang maha berat namun luhur. Sebab memang tugas yang dipercayakan oleh negara kepada Brigade III dalan memimpin brigade nya ber wingate action itu harus berusaha menaklukkan atau menanggulangi seribu satu tantangan kesulitan-kesulitan yang antara lain tantangan-tantangan itu berupa sebagai berikut :

  1. Jarak jalan yang harus ditempuh oleh Brigade III dalam gerakan penyusupannya dengan melalui daerah pegunungan-pegunungan Kawi Selatan, Semeru Selatan, di daerah Malang untuk sampai di daerah basis gerilya di Banyuwangi dan Situbondo kurang lebih 500 km (Bn.27,26 dan Depot Bn).
  2. Komando Brigade III dengan Bn 25 harus menempuh jarak kurang lebih 350km untuk sampai di basis Centrum Komando di Daerah Kecamatan MAESAN (BONDOWOSO).
  3. Puluhan ribu jumlahnya keluarga-keluarga yang ikut bersama-sama kembali ke daerah Besuki, yang ini berarti membutuhkan jaminan keselamatan/ k
  4. Rombongan-rombongan dan Pegawai Pemerintahan Sipil yang juga ikut bersama-sama kembali ke daerah Besuki.
  5. Sangat kekurangan perbekalan perang baik bahan makanan maupun alat-alat Peledak/Mesiu.
  6. Pada saat itu musim penghujan dan musim Laip (Paceklik), sehingga keadaan persediaan bahan makanan para penduduk/masyarakat dimana-mana tempat yang dilalui pasukan-pasukan sudah tidak mencukupi.
  7. Selama dalam perjalanan sering kali terpaksa harus mengadakan penyerangan pada musuh guna pembuka jalan (corridor-corridor), sebaiknya juga sering kali diserang oleh musuh.
  8. Serta berbagai kesulitan-kesulitan lainnya

Dalam perjalanan untuk mencapai garis perbatasan kabupaten-kabupaten di daerah Lumajang sampai Jember, beberapa kali rombongan pasukan di serang oleh musuh dari udara maupun dari darat, antara lain yang terbesar pertempuran-pertempuran Kesamben (Wlingi), Seloputro (Wlingi), Jamboewer/Sumberrejo Guguniti (Wlingi), Pagak (Kepanjen) dan yang paling dahsyat pertempuran di Desa TEMPURSARI pada tanggal 1-2 Januari 1949 dimana musuh mengerahkan kekuatannya dengan bantuan dari Angkatan Udaranya.

Pada pertempuran tersebut Bn 26 (E.Y.MAGENDA) dengan kompi BINTORO nya memegang peranan penting. Beberapa korban jatuh pada kedua belah pihak. Pada saat itu desa Tempursari merupakan koridor untuk keluar/masuk daerah Besuki-Malang, oleh karenanya dipertahankan oleh musuh dengan sangat kuat.

Setelah dapat diketahui kekuatan musuh yang mempertahankan Desa Tempursari maka siasat Brigade diubah, tidak semuanya harus melalui Tempursari, Komando Brigade III, Bn 27 dan Depot putar haluan, melalui perkebunan Sumbersurip terus menuju Desa Penanggal. Sesudah mengadakan pertempuran di Desa Pronojiwo, Jarit, Candipuro, akhirnya pada tanggal 8 Januari 1949 Desa Penanggal (Pasirian) dapat direbut dan diduduki oleh BRIGADE III BN 26 dan Kompi BINTARO terus menerobos Desa Tempursari. Di Desa Penanggal ini Komandan Brigade III pada tanggal 10 Januari 1949 mengadakan rapat dengan Komandan-komandan Bataliyon untuk menentukan siasat lebih lanjut.

Keputusan rapat antara lain :

  • Bn 27 untuk menuju Banyuwangi harus melalui Selatan (Menyusuri pantai Selatan) dengan menerobos pertahan musuh yang mungkin ada di desa Kunir, Maleman (Yosowilangun), Kencong, Puger, Ambulu, Kota Blater (Wonowiri Bandealit dll).
  • Komando Brigade III, Bn 26 Depot Bn dan 25 bergerak bersama sampai perbatasan Tanggul – Jatiroto (Kaliglagah). Dari sini Bn 26 dan Depot Bn misah menuju ke Utara di daerah Kraksan Paiton dan terus melalui daerah Utara menuju ke Timur (Daerah Bondowoso dan Situbondo). Dari Kaliglagah Komando Brigade III dengan di kawal Bn 25 melalui garis dalam (Jalan Tengah/Dataran) menuju kedaerah sekitar Kecamatan Sumberjambe dan Maesan untuk tempat kontrol k

Pada tanggal 17 Januari 1949, BRIGADE III mengadakan peringatan hari Kemerdekaan dengan cara penyerangan dan penghancuran atas pos musuh di Perkebunan Aengsono (Jatiroto). Pabrik dapat di bakar dan satu peleton pasukan CAKRA/O.W. dapat dilucuti. Berikutnya perkebunan Sumberayu dan Gondang di serang oleh Brigade III. Di sini Letnan Dua S.Prajitno memegang peranan utama dalam penyerangan-penyerangan tersebut. Sukses yang diperoleh Brigade III semenjak dari Penanggal berlangsung sampai di wuluhan pada Bulan Februari 1949. Setelah menghadapi pertempuran penghadangan di Desa Darungan (Tanggul) Sumber . . . . . . (BANGSALSARI) . . . . . . . . . (BANGSALSARI) pada awal bulan Februari 1949 Komando BRIGADE III dengan Bn 25 tibalah di Desa Pomo (Lojejer/Puger). Di sini BRIGADE III KI II Bn 25 segera menyerang pos musuh di Wuluhan dan Ambulu. Sejumlah 0.W.bp Kadarusmin dengan senjatanya ringan sebanyak lebih kurang 32 pucuk menyerahkan diri. Kemudian di desa ini Komando BRIGADE III mendapat serangan balasan. Kemudian BRIGADE III meningalkan Desa Pomo (Lojejer), dan bergerak menuju ke desa Jenggawah, Jatisari, Gayasan. Musuh dengan menggunakan sebanyak mata-matanya membuntuti bergeraknya BRIGADE III.

Setibanya di Gayasan Komando BRIGADE III dan Bn.25 istirahat. Setelah mengetahui bahwa Komando BRIGADE III dan Bn 25 istirahat di Desa Gayasan ini, maka musuh berusaha mengepungnya dengan mendatangkan bala bantuan dari Ambulu, Mangli, Jember, Tempurrejo dll. Maka pada tanggal 6 Februari 1949 mulai waktu fajar terjadilah pertempuran dahsyat antara pihak musuh melawan Komando BRIGADE III dan Bn 25. Dari dua belah pihak banyak yang jatuh korban. Korban pihak kita (BRIGADE III):

  • Letnan Dua Wagini kena tembak kakinya dan beberapa anak buahnya (12 orang) gugur.
  • Anak buah dari Peleton MDibijan (KI III/Bn 25) sebanyak lk.17 orang gugur.

Sedang musim hujan dan banjir menambah beratnya penderitaan. Musuh terus mendesak rombongan Komando BRIGADE III dan Bn 25. Kita berusaha mengadakan perlawanan terus. Akhirnya musuh mengundurkan diri. Tetapi musuh tetap berusaha mengadakan pengintaiannya kemana kiranya BRIGADE III akan berpindah tempat.

Dalam rombongan Komando BRIGADE III ini selalu bersama-sama 4 serangkai tokoh penting:

  1. Letkol MSroedji – Komandan BRIGADE III.
  2. Letkol dr.R.M.Soebandhi – Kepala DKT merangkap Residen M
  3. Brigade Mayor Imam Soekarto
  4. Mayor Sjafioedin – Komandan Bn 25.

Setelah pertempuran di Gayasan reda, rombongan BRIGADE III dan Bn 25 pindah dari Desa Gayasan menuju ke Desa Mumbulsari terus ke Desa Karang Kedawung ini. Komando BRIGADE III dan Bn 25 beristirahat/bemalam.

Musuh yang memang berusaha terus dengan keras untuk menghancurkan rombongan ini, setelah mengetahui bahwa rombongan ini beristirahat dan bermalam di Desa tersebut, berusahalah mengepung lagi pada rombongan Komando Brigade III dan Bn 25 ini dan musuh mengerahkan kekuatannya sebanyak lebih kurang 1 batalyon dengan senjata lengkap modern.

Pasukan musuh yang mengepung Desa Karang Kedawung ini diduga dipimpin sendiri oleh Letkol Brongun, Komandan Tentara Belanda (Resimen/Rayon V) di Besuki. Pada saat itu bagi pihak BRIGADE III dan Bn 25 amat sulit untuk dapat mengawasi dan mengatasi keamanannya; karena setelah daerah Besuki di tinggalkan ber Hijrah selama 1 tahun, telah banyak sekali penduduk jatuh militansinya dan berubah memihak kepada musuh karena adanya intimidasi, demoralisasi dan bujuk rayunya pihak Belanda dan antek-anteknya. Akibatnya kedudukan BRIGADE III yang sedang beristirahat di Desa Karang Kedawung itu menjadi sangat terancam keamanannya.

Akhirnya pada tanggal 8 Februari 1949 mulai fajar menyingsing mula-mula terdengar satu kali tembakan. Dan pada waktu itu Komandan BRIGADE III Damarwoelan Letkol Moch.Sroedji segera memerintahkan kepada Letnan Soebono selaku Kepala Seksi untuk mengadakan peninjauan letak tembakan tersebut.

Akhirnya setalah diadakan peninjauan bahwa tembakan tersebut ternyata tembakan dari musuh, yang akhirnya terjadilah suatu pertempuran yang terdahsyat sampai dengan jam 11.00 siang, di segala penjuru Desa Karang Kedawung yang ditempati oleh BRIGADE III/DAMARWOELAN. Pertempuran ini merupakan pertempuran yang tragis bagi BRIGADE III dan semenjak itu BRIGADE III menderita kerugian yang lebih besar lagi.

Sebagai akibat adanya penyerangan yang dahsyat dari musuh dan perlawanan yang sengit dan gigih dari BRIGADE III di mana Komandan BRIGADE III sendiri langsung ikut bertempur, maka dalam satu grebekan oleh musuh Komandan BRIGADE III (Letkol Moch.Sroedji) dapat ditangkap tetapi beliau pantang menyerah, dan terus mengadakan perlawanan kepada musuh yang menangkap dirinya. Akhirnya beliau ditembak mati oleh musuh dan disiksa beberapa harinya, jari-jari tangannya di potong, dan kedua belah matanya di cukil (dilepaskan dari tempatnya). Jenazahnya diseret keliling kota Jember dan akhirnya digelimpangkan di depan hotel Jember yang terletak di depan alun-alun kota untuk dipertontonkan sementara pada penduduk kota Jember sebagai bahan propaganda bagi keunggulannya, bahwa T.N.I. (istilahnya mereka namakan TERRORIS) selamanya tidak akan menang melawan Belanda.

Kemudian jenazah Letkol Moch.Sroedji di makamkan di Desa Kreongan. Bersamaan dengan gugurnya Letkol Moch.Sroedji ini Letkol dr.R.M.Soebandhi juga dinyatakan hilang. Ternyata setelah dilakukan pencarian dan penyelidikan yang teliti oleh suatu team pencari di bawah pimpinan Kapten dr.Soegeng (Kepala DKT BRIGADE III yang baru), jenazah Letkol dr.R.M.Soebandhi ditemukan juga gugur di desa Karang Kedawung tersebut. Jenazahnya bersama-sama dengan jenazah prajurit pengawalnya kemudian di pindahkan ke TPU KREONGAN berdampingan dengan makamnya Letkol Moch.Sroedji serta pahlawan-pahlawan yang lainnya.

Demikian secara singkat Sejarah Pahlawan BRIGADE III almarhum Letkol Moch.Sroedji.

 

CATATAN JASA-JASA ALMARHUM LETKOL MOCH.SRUDJI.

  1. Jaman pembentukan BKR di Jember th.1945 bulan September beliau termasuk salah satu tokoh dan promotor Kemudian beliau di angkat sebagai Komandan Batalyon I BKR, kemudian Bn ALAP-ALAP s/d akhir th.1946.
  2. Ketika pelucutan senjata dari tangan Jepang, beliau disamping pemimpin lainnya telah mengambil peranan penting juga.
  3. Antara September 1945 s/d Januari 1947 telah 5 (lima) kali di kirim ke Front Pertempuran di Sidoarjo dan sebagai Komandan Sektor sayap tengah.
  4. Pada bulan Januari 1947 s/d April 1948 menjabat Komandan Resimen Infantri 39 Menak Koncar/Divisi VII SUROPATI.
  5. Pada clash pertama (Perang Kemerdekaan Pertama) memimpin gerilya dan mempimpin/memegang Komando atas C.O.G.III (Commando Organisasi Gerilya) untuk Kabupaten-kabupaten Lumajang, Probolinggo, dan sebagian daerah Kabupaten Jember Selatan (Kencong).
  6. April 1948 s/d Februari 1949 di angkat sebagai Komandan BRIGADE III/DAMARWOELAN/DIVISI I TNI.
  7. Ketika Peristiwa Madiun (Pemberontakan Madiun) beliau diangkat sebagai Komandan Gabungan Angkatan Perang (SGAP) di wilayah Kabupaten Blitar dan sekitarnya untuk memadamkan ekor peristiwa Madiun itu yang berkecamuk di daerah Kabupaten Blitar dan sekitarnya dengan hasil yang gemilang.
  8. Pada waktu perang kedua pecah, beliau memimpin BRIGADE nya (BRIGADE III) wingate action ke daerah Besuki lagi dan daerah Blitar dan sekitarnya.

 

K E T E R A N G A N :

BAHAN SEJARAH INI DI TURUN DARI SEJARAH MILITER RESIMEN INFANTARI 19/BRAWIJAYA DAN DI SEMPURNAKAN SESUAI DENGAN DATA-DATA BUKU SAMKARYA BHIRAWA ANORAGA, SEJARAH MILITER KODAM VIII/BRAW.

 

                                    ———————————

 

 

 

                                    JEMBER, TANGGAL 17-12-1972.

     MENGETAHUI :                                                             PASI-II

An. K O M A N D A N

     KEPALA STAF                                                                             ttd

           Cap/ttd

     Usman Moelyadi                                                                      K A M A R I

MAYOR INF NRP.121599.-                                                LETTU INF NRP.115196.-

 

Sesuai dengan aslinya.

Yang menatun.

BA RO DOK/PEN

 

  1. SURYATI

SERKA NRP.486968.-

 

KUTIPAN

Hal itu dinyatakan oleh Letkol.Sudarto dalam amanatnya sebagai IRUP pada Upacara bendera HUT Brigief 9/Bharaka Yudha ke XII yang telah dilangsungkan di pedukuhan Plalangan desa Karang Kedawung Kecamatan Mumbulsari Kabupaten Jember hari Selasa tgl.25 November ybl, dihadiri Pembantu Gubernur di Bondowoso Moh.Husein Dipetruno, DAN TARES 103 Besuki Kolonel. Drs.Slamet SP, Bupati Jember Abd.Hadi beserta segenap anggota Muspida, Ketua DPRD Jember Sunetro . . . . . . Ketua DPRD Bondowoso Darmoriyanto, Direktur Utama PTP 26 Sri Suprapto dan undangan lainnya.

Dinyatakan selanjutnya, bahwa dipilihnya tempat ini untuk upacara bendera HUT ke XII Brigade 9 adalah untuk menyusun kembali sejarah perjuangan rakyat Jember pada khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya didalam mempertahankan kemerdekannya, hal ini penting sekali artinya bagi kita baik yang pernah menghayati peristiwa tersebut, maupun bagi mereka yang akan melanjutkan perjuangan membela keutuhan negara dan bagi generasi muda tempat bersejarah ini dapat

                                                ————————————

 

BUPATI ABD.HADI                                   DAN BRIGIF 9 LETKOL SUDARTO :

Pada HUT ke-XII Brigif 9.                           MENGENAL SEJARAH PERJUANGAN

 

Kepala Desa Karang Kedawung dan Kepala Kampung pedukuhan Plalangan diberi tanda kenang-kenangan masing-masing sebuah radio, sebuah lampu petromax dan sebuah cangkul, dan juga diberikan kenang-kenangan kepada Ny. Subandi istri Alm. Letkol dr.RM.Subandi yang gugur. Pada kesempatan itu telah pula diadakan visualisasi class fisik antara pasukan-pasukan gerilya yang dipimpin Let.Kol.Moch.Sroedji selaku Komandan Brigade III/Damarwoelan yang kini menjadi Brigade 9/Dharaka Yudha dengan pasukan Belanda yang akhirnya mengakibatkan gugurnya Letkol.Moch.Sroedji, Letkol.dr.RM.Subandi dkk, sedang ajudan Letkol.Moh.Sroedji yang bernama Abdul Sukur masih hidup dan kini menderita cacat tangan kiri dan mata sebelah kanan, yang pada peragaan ini ikut hadir, sehingga karena teringat peristiwa saat itu, menyebabkan beliau tidak dapat lagi membendung air matanya. Menurut Lettu RB.Mukri selaku announcer peragaan ini pelaku peragaan terdiri 50 orang TNI batalyon 509, dan 30 orang Hansip Kecamatan Mumbulsari, sedang yang menjadi pelaku Let.Kol.Moh.Srudji adalah Sersan Untung. Seorang wanita penduduk pedukuhan Plalangan bernama Mbok Naam (Na-am) yang rumahnya menjadi markas Let.Kol.Moh.Srudji dimasa hidupnya melayani tentara Belanda hadir pula pada upacara ini. Brigief 9 Dharaka Yudha dalam usia 12 tahun sampai sekarang telah banyak melakukan kegiatan-kegiatan dalam pengabdian pada nusa dan bangsa yang diantaranya, pada 8 Juli 1965 penugasan ke Kalimantan Barat, 10 Juli 1968 penugasan batalyon 515 ke Irian Barat, 26 Juni 1971 pelepasan Pasukan Tugas Pengamanan Pemilihan Umum terdiri 7 Kompi dari Brigif 9 dibawah Pimpinan pada KOREM 083 dan 084, dan 11 Oktober 1972 batalyon 515 bertugas di Kalimantan Barat.

 

 

 

 

SEJARAH PERJALANAN “WINGATE”

BRIGADE III/DAMARWULAN

 

            Uraian yang disajikan berikut ini tidak berisi uraian tentang pengalaman-pengalaman saja, akan tetapi terutama memberikan hikmah dan pelajaran-pelajaran yang berguna bagi generasi muda. Hendaknya dapat menilai sendiri tindakan yang benar dan yang tidak benar.

            Walaupun pada umumnya kisah-kisah mengenai pertempuran gerilya mempunyai persamaan antara daerah yang satu dengan yang lainnya di Indonesia, namun karena daerah Besuki mempunyai sifat dan arti yang khas, baik bagi belanda maupun bagi Indonesia sendiri, maka penuturan sejarah ini sangat penting bagi generasi penerus karena sifat dan cara perlawanan pun agak berbeda dengan daerah lain.

  1. Daerah Besuki mempunyai nilai ekonomi yang sangat penting; perkebunan dan pertanian; tidak tanpa maksud Belanda menamakan daerah ini “de schuur van Java” artinya “Lumbung pangan bagi pulau Jawa”.
  2. Karena sifat itu pertahanan Belanda tidak diadakan di kota besar dan jalan jalan penting saja seperti halnya di lain-lain daerah, tetapi setiap jengkal tanah di semua pelosok mereka pertahankan secara mati-matian.
  3. Dalam mengatur pertahanan dan kekuasaannya itu mereka mempunyai cukup waktu yang lama (21 Juli 1947 sampai sampai desember 1948). Mereka tidak menyia-nyiakan waktu selama itu untuk menyusun “volksdefensie” nya secara efisien.
  4. Hal tersebut ditambah dengan kekuatan ekonomis dan materiil pada pihak mereka.

Bukan sekali-sekali untuk menunjukkan heroism yang berkelebihan, maka disebabkan oleh faktor-faktor di atas dibanding dengan daerah lain, Besuki merupakan daerah yang paling paling berat. Oleh sebab itulah perjalanan “Wingate” Brigade III/Damarwulan yang pada saat berangkatnya diikuti oleh kurang lebih 4.000 orang, sesampainyapada akhir tujuan hanya tinggal kurang lebih 1.000 orang saja yang utuh; selebihnya telah banyak yang gugur, cacat, ditawan atau menyerah.

GERAKAN BRIGADE III/DAMARWULAN.-

Pemberontakan : Gerakan tentara Belanda yang mereka namakan Aksi Polisionil ke 2 dilancarkan k.l. pada jam 05.00 pagi tanggal 18 Desember 1948. Dengan gerakan lewat Kertosono ke Selatan dan dari Malang ke Barat mereka mencoba mematahkan perlawanan Tentara Republik Indonesia.

Perhitungan pihak lawan memilih waktu memang sungguh tepat secara strategis militer karena :

  1. Pasukan kita sedang dalam tahap konsolidasi menyelesaikan operasi penumpasan pemberontakan PKI/Madiun.
  2. Kita sedang membenahi diri setelah Rasionalisasi/Reorganisasi Angakatan Perang tahun 1948 selesai.
  3. Para pimpinan teras dari kesatuan-kesatuan masih berada di kota Kediri terpisah dari anak buah karena sehari sebelumnya mengikuti peresmian berdirinya Divisi I/Brawijaya dan mendapatkan briefing di tempat itu.

Berita tentang adanya gerakan tentara Belanda pertama diterima oleh Komandan Brigade III Letn.Kol.Moch.Sroedji pada tanggal 18 Desember pagi kira-kira jam 05.30 di rumah beliau di jalan Doho, Blitar. Berita itu diterima lewat telpon dari Brigade IV – Malang. Jam 06.30 berkumpullah perwira-perwira Staf Brigade III dan para Komandan Batalyon disekitar kota Blitar yang telah datang kembali dari Kediri di rumah Komandan Brigade, disusul kemudian datangnya Mayor Soedjanoedji, Kepala Staf Brigade IV Malang, dan dilakukanlah perundingan tentang rencana gerakan bersama.

Tidak lama kemudian diterima radiogram dari Staf Divisi I Brawijaya yang berisi telah ditetapkannya hari “H” yang dimaksudkan dalam Perintah Harian Panglima Komando Jawa No.01 (Kolonel A.H.Nasution) untuk mulai dilaksanakannya gerakan “Wingate”, yang telah lama dipersiapkan.

Setelah menempatkan beberapa kompi disebelah Utara dan Timur kota Blitar untuk mengadakan “delaying actions” (aksi penghambatan) sambil menata dan mengatur keselamatan penduduk bersama pemerintah sipil, maka Staf Brigade III secara berkelompok dan berangsur-angsur meninggalkan kota Blitar untuk melanjutkan Komando.

Staf Komando Brigade III sendiri yang pada saat itu terdiri dari :

Komandan                            : Letn.Kol.Moch.Sroedji

Kepala Staf                           : Mayor Imam Soekarto

Ajudan                                   : Letnan II Rachmat Utomo

Staf I                                       : Kapten Soeratman (kebetulan berada di Jawa Tengah

   dan bergabung pada Div.Dopengoro).

Staf II                                     : Letnan I Machfoed

Staf III                                    : Kapten Moesarfan

Staf IV                                    : Letnan I Maridjo

Perwira Pek.Istimewa           : Letnan I Noorogo.

Perwira kesehatan menangkap Residen Militer : Lt.Kol.Dr.Soebandi baru meninggalkan kota Blitar sekitar jam 19.30 menuju Lodoyo. Pada saat Staf Brigade III sedang beristirahat di Lodoyo, pagi hari tgl. 19 Desember 1948 kira-kira jam 04.30 telah terjadi pertempuran yang hebat antara pasukan TRIP dan musuh yang meninggalkan korban besar di kedua pihak.

Perjalanan dilanjutkan ke timur menuju Wates, Bantur terus ke Malang Selatan. Perjalanan sampai Pronojiwo (Malang Selatan) dilakukan pada pagi dan siang hari. Sampai di tempat itu tidak dialami perlawanan yang berarti, karena pihak musuh tidak mengadakan serangan oleh pasukan darat. Mungkin karena mereka ingin meghemat tenaga atau karena daerah ini secara strategis militer dan ekonomis tidak mempunyai banyak arti bagi mereka. Serangan-serangan yang bermaksud pengacauan dan pengintaian (verkenning) dilakukan dari udara. Apabila anak-anak pasukan kita benar-benar mengikuti petunjuk-petunjuk atau ajaran yang diberikan waktu masa pendidikan, tentunya dalam gerakan ini tidak akan jatuh korban-korban, karena rupanya serangan memang tidak dimaksudkan untuk menghancurkan, tetapi sekedar untuk mengetahui kekuatan dan posisi pasukan kita. Namun kerena pasukan kita juga diikuti oleh para anggota keluarganya terdiri dari wanita dan anak-anak. Maka kelompok-kelompok inilah yang sulit diatur. Setiap waktu pesawat melayang di udara dimana seharusnya mereka harus berlindung, justru mereka ini menjadi panik, lari kian-kemari mencari suami/ayah mereka masing-masing. Kerugian kita ialah : jatuhnya beberapa korban yang tidak perlu dan posisi kita rupanya telah diketahui; musuh telah dapat menerka arah tujuan kita.

Atas dasar hasil pengintaian mereka itu strategi mereka diubah dan ditentukan selanjutnya sebagai berikut :

Phase ke I      : Jalan-jalan menuju daerah Besuki dijaga lebih ketat patroli jalan urat-

                           nadi perhubungan dilakukan terus menerus.

Phase ke II     : Pasukan-pasukan yang semula ditempatkan di kota-kota kabupaten

                           dalam kesatuan Batalyon dipecah-pecah dan disebar ke kecamatan-

                           kecamatan sampai ke desa-desa sebesar 1 kompi, peleton, bahkan

                           kadang-kadang sampai regu.

Phase ke III   : Pasukan-pasukan “Cakra” di Madura mereka datangkan ke daerah

                           Besuki.

Phase IV        : Mereka melakukan tindakan-pengeluhan (exhausting actions) ; mem-

                           biarkan kita bergerak terus sampai lelah dan menghantam kita setelah

                           kelemahan mencapai klimaks-nya.

Phase ke V     : Mereka mengadakan taktik-penyerapan. Mereka sengaja menggiring

                           kita ke daerah surplus dan ditempat itulah kita di “tapal-kuda”.

Hal ini mulai terasa setelah kita hampir melewati daerah Malang Selatan, menjelang memasuki daerah Besuki. Disini phase I mereka telah mulai mereka jalankan. Serangan-serangan yang semula tidak sering mereka lakukan, sekarang mulai daerah Pronojiwo tiap hari mereka lakukan. Pronojiwo sulit kita tembus; penjagaan mereka ketat sekali, persenjataan lengkap dan semuanya serta otomatic. Disini pasukan kita terpaksa berbalik arah lagi, berbelok menuju ke utara dan mencoba mencapai desa Penanggal lewat utara. Disinipun gagal lagi karena penjagaan juga kuat sekali. Apakah pasukan yang di Pronojiwo tadi yang tertarik ke Penanggal, ataukah yang di Penanggal memang sejak semula ditempatkan disana, kita kurang tahu; mereka mobile sekali,

Pokoknya posisi kita telah mereka ketahui. Diam di satu tempat saja sangat berbahaya; bergerak pun jalannya buntu semua. Disini Komando Brigade memeras otak benar-benar; karena kita tidak ingin “mati-konyol” dan harus menghemat tenaga. Tujuan utama menurut perintah adalah melintasi perbatasan Besuki dan di daerah sana perjuangan fisik kita selesaikan sacara tuntas, jadi tidak bisa “hantam-kromo” saja di tengah perjalanan.

            Sebagai hasil pemikiran Komandan Brigade III maka dikeluarkanlah instruksi-instruksi :

  1. Pasukan kita dipecah-pecah lagi dalam kesatuan yang kecil-kecil ;
  2. Bergerak terus di malam hari dan pagi hari buta.
  3. Menghemat tenaga dan peluru apabila jelas musuh lebih kecil boleh diserang, jangan membuang tenaga untuk musuh yang besar yang tidak dapat kita hancurkan.
  4. Pasukan kecil-kecil kita ini setelah melewati batas dan penjagaan tentara musuh, ditempat yang baru itu mengadakan pengacauan (pembakaran, peledakan rel, jembatan, gudang dan lain sebagainya).

Taktik ini rupanya berhasil ; perhatian pasukan musuh berbalik ke daerah Besuki yang ada di belakang mereka. Dengan demikian pasukan kita yang masih ketinggalan di daerah Malang, leluasa dan mendapat kelonggaran untuk sedikit demi sedikit tapi terus-menerus merembes melintasi perbatasan Malang/Besuki.

Disini terasa sekali bantuan dari rakyat dalam hal :

  • Supply makanan
  • Pemberian info-info
  • Bertindak selaku kurir
  • Penunjuk jalan di malam hari

Sistem pertahanan mereka menjadi kacau, ditambah pula meningkatnya kegentingan di daerah Malang sendiri, lagipula penduduk di kota-kota besar seperti Jember, Bondowoso, Situbondo, Banyuwangi sadar, bahwa TNI dari asal daerah mereka benar-benar dan sungguh-sungguh masuk Besuki kembali. Aksi-aksi mereka dibawah tanah ditingkatkan. Belanda mulai tahu, bahwa Letn.Kol.Moch.Sroedji berada di daerah ini dari kurir-kurir yang ditangkap. Untuk keamanan Pak Sroedji mulai memakai nama samaran “Haji Rosyidi”.

Untuk mengatasi keadaan itu kini mereka mulai menerapkan phase ke IV mereka. Mereka melakukan taktik-penglelahan. Hasilnya bagi mereka rupanya kurang memuaskan. Hal ini disebabkan karena sebelum mereka bergerak menyerang, pasukan kita yang memang sudah mulai agak lelah, diberitahu lebih dulu oleh penduduk (informan). Kita bersembunyi di hutan-hutan dan di gunung-gunung di siang/pagi hari dan meneruskan perjalanan di malam hari. Jam 01.00 malam di suatu hari kita terpaksa menyebrangi kali Bondoyudo masuk jantung daerah Besuki.

Disini tentara Belanda mulai mengadakan serangan habis-habisan. Phase V mereka jalankan. Karena mereka tahu bahwa pasukan kita bersembunyi di gunung-gunung dan hutan, maka ada atau tidak ada pasukan kita disitu, gunung dan hutan itu terus-menerus dihujani mortir dan houwitser. Dengan perhitungan bahwa kita akan menjadi tidak kerasan dan tidak betah di gunung/hutan mereka bermaksud menggiring kita menuju kedaerah surplus pangan dan disinilah kita akan di tapal-kuda dan akan dibinasakan.

 Phase VI mereka mulai dijalankan : Pasukan baru (grenadiers) didatangkan dari negeri Belanda dan ditempatkan di garnisun-garnisun tengah kota. KNIL dan CAKRA disebar ke desa-desa.

Pengkapan dan siksaan diluar batas mereka lakukan terhadap penduduk. Penduduk atau pejabat yang patuh mereka lakukan seperti anak emas dengan cara sistem distribusi barang kebutuhan pokok; penduduk yang pernah ketempatan Tentara Indonesia atau memberikan makanan, rokok ala kadarnya, penunjuk jalan dll ditangkapi dan disiksa secara kejam. Keluarga (anak/istri/orangtua) para anggota TNI ditangkapi dan dikumpulkan menjadi satu dalam konsentrasi-kamp di Ambulu. Mereka disini dirawat baik, dengan maksud agar dapat mempengaruhi suami/ayah/anak mereka yang masih berjuang diluar untuk bersedia menyerahkan diri.

 Cara mereka ini rupanya cukup membawakan hasil. Semangat penduduk mulai mengendor; kemenangan akhir bagi Republik Indonesia menjadi kurang meyakinkan, apalagi oleh pihak TNI kurang kelihatan adanya penyerangan-penyerangan yang berarti lagi. Menyadari keadaan ini maka dalam rapat antara Komando Brigade III dan Komandan Batalyon 25/Safioedin diajukan saran, agar kita bergerak secara besar-besaran untuk meyakinkan rakyat bahwa TNI masih utuh. Gerakan tidak lagi dilakukan dalam kelompok-kelompok dalam bentuk Batalyon atau sekurang-kurangnya 2 kompi.

Usul ini disetujui oleh Komandan Brigade dengan maksud untuk mengembalikan kepercayaan pada diri sendiri diantara penduduk. Namun justru pada saat itulah terjadi mala petaka yang besar. Dalam perjalanan dari Wirolegi ke Soko, sekitar jam 22.00 malam pasukan Staf Komando Brigade III/Damarwulan ditambah 2 kompi dari Batalyon Safioedin sampai di desa Karangkedawung. Mungkin karena sangat lelah karena telah 3 bulan lamanya berjalan terus-menerus, naik gunung turun gunung, menyebrangi sungai dan parit-parit sambil bertempur, dan makan serta perawatan badan kurang teratur, maka kita pada saat itu kehilangan kewaspadaan. Jaga malam tidak diadakan, tindakan pengamanan, verkening (pengintaian) dan penyelidikan medan di lalaikan. Akibatnya secara sekonyong-konyong pada waktu pagi buta jam 05.00 tanggal 8 Maret 1949 tentara musuh mengepung dan menyergap pasukan kita. Letnan.Kol.Moch.Sroedji masih mengadakan perlawanan, tetapi akhirnya beliau gugur sebagai Kusuma Bangsa. Demikian pula Let.Kol.dr.Soebandi dan kurang lebih 46 orang prajurit lainnya.

Jenazah Let.Kol.Moch.Sroedji dibawa oleh Tentara Belanda ke Jember dan dikebumikan oleh penduduk di kota ini, sedangkan Let.Kol.Dr.Soebandi dimakamkan setempat oleh penduduk di Karangkedawung bersama dengan yang lainnya. Jenazah Dr.Soebandi baru diketemukan kembali sekitar bulan Februari 1950 oleh team pelacak dibawah pimpinan Kapten Dr.Soegeng.

Setelah peristiwa itu Komando Brigade III/Damarwulan bercerai-berai, sebagai gantinya Let.Kol.Moch.Sroedji ditunjuk Let.Kol.Abdul Rifai oleh Panglima Divisi I. Dalam rapat konsolidasi telah disetujui oleh para Komandan Batalyon untuk menunjuk Mayor Imam Soekarto, Kepala Staf Brigade III/Damarwulan untuk memegang tampuk-pimpinan Komando Brigade III menggantikan almarhum Let.Kol.Moch.Sroedji.

Peristiwan-peristiwa kemudian secara beruntun dapat dicatat sebagai berikut :

Letnan II Prayitno, Perwira Staf I gugur dalam pertenpuran di Wirolegi yang tidak seimbang dalam bulan April 1949.

Letnan II Rachmat Utomo, Ajudan Brigade III dalam keadaan luka parah tertawan oleh musuh di desa Gebang, dalam bulan Mei 1949, dalam suatu sergapan mendadak.

Letnan I Machfud gugur di daerah Sempolan dalam pertempuran tunggal sekitar bulan Juni 1949 dan kini di makamkan dimakan biasa di desa Gebang.

Namun akhirnya tujuan akhir tercapai juga; Brigade III/Damarwulan dengan mengalami berbagai pengalaman yang pahit sampai juga pada tujuannya dan berhasil menyelesaikan missi nya yang dibebankan diatas pundaknya dengan baik. Batalyon 25/Safioedin tiba di daerah Jember, Batalyon 26/Magenda di Bondowoso, Batalyon 27/Soedarmin di Banyuwangi dan Depot-Balyon Darsan Iroe di Situbondo, Compie Mujahidin dibawah pimpinan Haji Sech di Jember Selatan.

Pada 27 Desember 1949 kedaulatan oleh Pemerintah Belanda diserahkan kepada Pemerintah Republik Indonesia Serikat. Komando Brigade III/Damarwulan menempati Markasnya di Hotel Jember, kemudian pindah ke Markas Brigade III di jalan Aloon-aloon. Tentara Kerajaan Belanda Brigade 23 di bawah pimpinan Let.Kol.Brendgen menempati Markas sementaranya di Bondowoso.

Pertempuran-pertempuran yang berarti telah tidak ada lagi ; hanya insiden-insiden kecil kadang-kadang masih terjadi akibat kesalah-pahaman belaka. Untuk menampung masalah-masalah ini di Bondowoso ditempatkan suatu kantor Penghubung (liaison office), yang bagi Tentara Belanda diwakili oleh Letnan I Aertse dan dari Tentara Indonesia Letnan II Rachmat Utomo.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

NAPAK TILAS ROUTE GERILYA BRIGADE III/DAMARWULAN

B L I T A R                  —                  J E M B E R

SURAT          —         KEPUTUSAN

Nomer : 01/KLM/SK/10/XI/1981.

TENTANG

PANITIA PELAKSANAAN PELACAKAN ROUTE GETILYA

BRIGADE III / DAMARWULAN.

 

            Dewan Pimpinan Daerah tingkat I Korps Long March Gerilya Penghayatan Jiwa Nilai – Nilai Perjuangan 45 Propinsi Jawa Timur, setelah :

MENIMBANG          : Bahwa untuk mensukseskan pelaksanaan pelacakan Route

                                       Gerilya Brigade III/Damarwulan, dari Blitar sampai Jember,

                                       dalam rangka memperingati WINGATE ACTION Brigade III/

                                       Damarwulan ke daerah Besuki pada Perang Kemerdekaan Ke-

                                       II; perlu dibentuk panitia pelaksana.

MENGINGAT           : Keputusan Musda Korps Long March Route Gerilya Propinsi

                                       Jawa Timur, Nomer : 01/KLM/MD/10/VII/1981, tentang

                                       Peraturan Dasar dan Peraturan Rumah Tangga Korps Long

                                       March Route Gerilya Propinsi Jawa Timur.

MEMPERHATIKAN :

  1. Nasehat dan petunjuk dari Dewan Harian Daerah Angkatan 45 Propinsi Jawa Timur.
  2. Saran dan pendapat Sidang Pleno Korps Long March Route Gerilya Propinsi Jawa Timur, pada tgl. 17 September 1981.

M E M U T U S K A N :

MENETAPKAN       : Keputusan Korps Long March Route Gerilya Propinsi Jawa

                                       Timur, tentang susuna Panitia Pelaksana Pelacakan Route

                                       Gerilya Brigade III/Damarwulan.

PERTAMA   : Susunan Panitia Pelaksana Pelacakan Route Gerilya Brigade III/

                           Damarwulan, sebagaimana tercantum pada lampiran Surat Keputusan

                           ini.

KEDUA         : Pelacakan dilaksanakan di Blitar sampai Penanggal dari tanggal 27

                           Desember 1981 s/d tanggal 1 Januari 1982.

KETIGA         : Anggaran yang diperlukan guna pelaksanaan Keputusan ini, diusaha-

                           kan oleh Panitia dan Korps Long March Route Gerilya Propinsi Jawa

                           Timur.

KEEMPAT    : Panitia Pelaksana bertanggung jawab penyelenggaraan Program

                           Pelacakan ini, kepada Korps Long March Route Gerilya Propinsi Jawa

                           Timur.

KELIMA        : Surat Keputusan ini disampaikan kepada yang bersangkutan, dan ber-

                           laku sejak tanggal tanggal ditetapkannya dan apabila dikemudian hari

                           terdapat kekeliruan, akan dibetulkan sebagaimana mestinya.

 

                                                                                    Ditetapkan di : S u r a b a y a.

                                                                                    Pada tanggal : 10 November 1981.

                                                                     KORPS LONG MARCH ROUTE GERILYA

                                                                                   PROPINSI JAWA TIMUR

   KETUA UMUM ;                                                             SEKRETARIS UMUM ;

 

( HARRY EFFENDY )                                                             ( WARSITO. B.A. )

 

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *