Orang-Orang Tua yang Memanggul Kisah

Pada bulan Juni, dua tahun yang lalu, ia bercerita tentang masa mudanya, tentang hari-hari yang ia lalui di masa perang revolusi. “Saya ini pelopor, bukan tentara. Tugas saya sederhana, mencuri amunisi milik pihak lawan,” ujarnya dalam bahasa Madura. Dialah Astar, yang lebih akrab dipanggil Surani, nama anak pertamanya yang telah meninggal dunia.

Surani menjalani masa tua di Lereng Selatan Gunung Argopuro. Orang-orang di desa Kedaton menaruh rasa hormat padanya, sebab selain mantan pejuang, Surani adalah seorang pendekar pencak silat.

“Nak, datanglah ke sini ketika saya mati.”

Dia juga berkata, “Tolong sampaikan salam hormat saya untuk anak cucu Pak Sroedji yang masih bersedia mengingat orang-orang seperti saya.”

Pada 3 Januari 2016 Pukul 21.30, datang kabar duka dari desa Kedaton. Tentu saya datang, semalam-malamnya, sebab Almarhum pernah berpesan, “Datanglah ke sini ketika saya mati.”

Ia dimakamkan di belakang rumahnya, di sebuah kebun kopi yang ia tanam dengan tangannya sendiri. Tak ada bunga lain yang tertabur selain bunga kopi. Ketika itu, kopi memang sedang berbunga.

Saya mengenal orang-orang seperti Surani, yang hingga kini masih hidup. Tidak banyak, tapi kami bersahabat.

Burseh adalah satu di antaranya. Usianya telah 95 tahun, namun hingga kini ia tetap menjalani hidup sebagai tukang parkir di Jember wilayah Selatan. Bila diperhatikan sepintas, orang tak akan tahu jika ia adalah seorang Sersan Purn. Brigade III Divisi I Damarwulan Batalyon Syafiudin.

Ada yang bernama Mohari. Saya mengenal lelaki kelahiran 1926 ini saat ia masih segar bugar hingga kini ia tak bisa jauh-jauh lagi dari ranjang. Beberapa bulan lalu Mohari jatuh, terpeleset, ia mengalami patah tulang di bagian punggung. Saat masih bugar, Mohari banyak bertutur tentang pengalamannya ketika masih tercatat sebagai anggota pasukan Batalyon 7 Alap-alap, di bawah komando Sroedji.

Ketika Sroedji menjadi komandan pasukan Damarwulan, Mohari tidak turut di dalamnya. Ia ada di kompi yang lain, dengan medan perjuangan berlokasi di Merakurak, Tuban.

Figur lain adalah Sitam, lelaki kelahiran Bojonegoro tahun 1927. Kini ia telah renta dan bertongkat, dan menjalani hari-harinya di desa Biting kabupaten Jember. Melihat kondisinya, orang tak akan percaya jika Sitam sudah ikut perang gerilya hingga ke hutan Nganjuk, di usianya yang masih sangat belia, dan bergabung di Batalyon 503 –kini LINUD– di bawah kepemimpinan Djarot Subiantoro.

Satu lelaki tua lainnya yang saya kenal, namanya Boejaman. Ia terlahir di Arjasa pada 1 Januari 1920. Kini ia telah menjadi ‘kembange kasur’ dan tak bisa kemana-mana. Jika tak ada penutur, manalah kita tahu di saat mudanya, Boejaman pernah berperan sebagai pengawal khusus Sroedji.

Boejaman lulusan HEIHO, dilatih untuk bisa bertugas di satuan artileri pertahanan udara, tank, artileri medan, mortir parit, dan sebagai pengemudi angkutan perang. Kelak, ia tercatat sebagai salah satu pasukan Brigade III Damarwulan.

Boejaman. Kisah hidupnya panjang. Bila dirangkum akan menjadi seperti ini;

Di tahun 1945 Boejaman telah ikut menguatkan pertahanan di Sidoarjo. Pada 1947 ia turut melakukan gerilya. Tahun berikutnya turut hijrah dari Jember ke Blitar. Awal 1949 mengikuti komando untuk kembali ke Besuki, di bawah kepemimpinan Sroedji. Ketika ditempatkan di Waru, ia sudah bersama Sroedji.

Mungkin ada yang masih ingat, saya pernah menceritakan sosok Moelijan, lelaki sepuh yang senang memakai caping. Tak banyak yang tahu jika ia adalah salah satu anggota pasukan Brigade III Divisi I Damarwulan pimpinan Moch. Sroedji.

Suatu hari, ketika terjadi gonjang ganjing politik di negeri ini, ia membakar segala kertas/surat-surat yang berhubungan dengan masa lalunya. Bahkan KTP miliknya turut terbakar. Moelijan kecewa.

Minggu lalu ketika saya singgah di rumah Moelijan, malam hari, ia sedang tidur di sebuah gubug berbilik bambu di seberang rumahnya. Kata cucunya, Moelijan memang terbiasa tidur di luar rumah. Cucunya tidak tahu, mungkin tak akan pernah tahu, jika sang Kakek sedang merindukan teman-temannya. Saya tentu tahu, sebab pernah sekali dalam hidupnya, Moelijan menangis di hadapan saya. Dia bilang, “Saya merindukan teman-teman saya. Dalam bayangan saya, mereka masih berwajah muda. Beberapa dari mereka bahkan masih menyisakan darah di wajahnya. Semakin saya mengingatnya, bayangan wajah-wajah mereka semakin kabur.”

Ketika itu saya mencoba menghiburnya. Saya bilang, cobalah untuk tak memikirkannya. Moelijan bilang, “Bagaimana saya bisa melupakan wajah sahabat yang mati di pelukan saya? Mereka hanya ingin hidup merdeka di atas tanah airnya sendiri, tapi usia mereka tak sepanjang usia saya.”

Itulah Moelijan, lelaki tua yang senang memakai caping. Hingga kini, ia masih suka tidur di luar rumah dan mengenang wajah teman-temannya yang tak pernah menua.

Masih ada beberapa orang lagi yang saya kenal, yang pernah mati-matian berjuang menegakkan kemerdekaan. Sebagian dari mereka telah lebih dahulu pergi menghadap Sang Pencipta, namun tentu saya tetap akan mengenangnya, seperti Moelijan mengenang teman-teman seperjuangannya.

Para pejuang, orang-orang yang gigih memperjuangkan apa yang menurutnya benar, mereka akan tetap ada jika kita bersedia untuk mengingatnya.

Para sahabat, selamat Ramadhan, mohon maaf lahir dan batin.

*Admin Oleh RZ Hakim

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *