Markas Pasukan Gagak Hitam itu Ada di Kalisat

Fatmanijah. Ia sudah tak lagi muda. Perempuan kelahiran Kalisat kabupaten Jember pada 1922 inilah yang berkisah kepada kami tentang Pasukan Gagak Hitam. Ruang gerak perjuangan Gagak Hitam terbentang dari Kalisat hingga kabupaten Bondowoso. Mereka ada dan turut melakukan perlawanan, di masa Agresi Militer Belanda, 1947-1949.

Apa yang Anda ingat ketika mendengar nama Gagak Hitam?

Pasukan Gagak Hitam yang kita ketahui sekarang, yang lebih populer adalah pasukan gabungan masyarakat sipil yang memiliki keahlian bela diri. Mereka bercirikan pakaian serba hitam dan ada sejak paska meletusnya G 30 S. Pasukan Gagak Hitam ini melakukan pengejaran dan pembunuhan bagi mereka yang dinyatakan terkait serta terlibat langsung dalam partai komunis. Ia berada di garda paling depan untuk melakukan eksekusi terhadap orang-orang tertuduh komunis.

“Bukan itu. Pasukan Gagak Hitam kami berjuang untuk mempertahankan kemerdekaan di masa Agresi, 1947-1949. Markas kami berada di desa Sumberkalong, kecamatan Kalisat, Jember. Pimpinan Gagak Hitam di masa saya bernama Muhammad Saleh. Ia ada di bawah komando E.J. Magenda, salah satu orang kepercayaan Pak Saruji.”

Fatmanijah atau Bu Fat, ia menyebut nama Komandan Brigade III/Divisi I Damarwulan itu dengan sebutan Pak Saruji, dan bukan Sroedji.

Di Gagak Hitam, Bu Fat masuk kelompok Commando Oemoem Gerilya 4, atau lebih dikenal COG. Di masa itu, masing-masing pasukan di Besuki Raya terdiri dari banyak COG. Ia juga memudahkan tiap-tiap prajurit untuk mengerti job dan posisinya.

“Dulu saya pernah diburu pasukan Belanda. Siapapun yang bisa menangkap saya, akan diberi hadiah sejumlah 75 gulden. Bahkan, Ibu dan ketiga adik saya sempat diculik oleh pihak tentara Belanda, sebelum kemudian kami menculiknya kembali.”

Mengapa Bu Fat dianggap penting hingga dihargai 75 gulden?

“Saya menjadi penting sebab saat itu saya menjadi bendahara Gagak Hitam, di COG 4. Siapapun warga atau pihak yang menyumbangkan harta bendanya untuk perjuangan mempertahankan kemerdekaan, semua nama-nama itu saya catat. Maka dari itu saya diburu Belanda. Mereka butuh tahu siapa saja orang-orang Kalisat dan sekitarnya yang pro Kemerdekaan RI.”

Karena posisinya lebih banyak di pencatatan, Bu Fat tak pernah diikutkan ketika pasukan Gagak Hitam sedang melakukan penyerangan. Jika markas mereka tiba-tiba diserang, ia menjadi satu di antara beberapa orang yang terlebih dahulu diselamatkan. Seperti ketika terjadi pertempuran di Gumuk Baung di desa Sukoreno. Bu Fat tidak ada di sana, namun ia tahu persis mengapa pertempuran itu terjadi, dan lebih dari satu kali. Katanya, salah satu pelaku perjuangan di Gumuk Baung bernama Pak Suradi. Kelak di kaki Gumuk Baung didirikan Monumen. Ia diresmikan oleh Bupati Jember, di masa kepemimpinan Soeryadi Setiawan, 14 Oktober 1986.

Dalam ingatan Bu Fat, masih terekam kebaikan orang-orang biasa seperti Pak Abdullah, seorang warga Sumberkalong. Ia orang biasa tapi punya peliharaan itik dan juga punya sawah. Semua itu, hasilnya disumbangkan untuk perjuangan.

“Jika juragan beras, yang paling banyak sumbang materi untuk perjuangan adalah pengusaha beras keturunan China yang lahir dan tinggal di Sukowono,” tambah Bu Fat.

Tentang Letkol Moch. Sroedji, Bu Fat tak pernah berjumpa. Namun tentu namanya dikenal oleh warga di Kalisat dan sekitarnya. Bu Fat lebih akrab dengan nama Pak Magenda, salah satu orang terdekat Letkol Moch. Sroedji. Karena hampir di setiap pertemuan, namanya selalu disebut-sebut. Menurut Bu Fat, Pak Magenda pernah bermarkas di Kahyangan, Panti, di Lereng Selatan Pegunungan Hyang, Argopuro. Kini nama Magenda dijadikan nama stadion di Bondowoso.

“Saya ingin sekali berjumpa dengan anak turun Pak Magenda, meskipun saya sendiri dulu tak pernah berjumpa langsung dengan Pak Magenda.”

Itulah kisah yang dituturkan oleh Bu Fat, putri dari seorang Ayah bernama Muhammad Alibasyah Tondo Prawiro, yang masih berdarah Yogyakarta. Ibunya Bu Fat bernama Aminah. Setiap kali ada tawaran untuk urus veteran, Bu Fat selalu menolaknya. “Berikan saja pada yang lebih berhak. Saya ini hanya seorang mantan guru.” Begitu kata Bu Fat.

Kini Bu Fat menghabiskan hari-harinya di tempat ia dilahirkan, desa Ajung kecamatan Kalisat, Jember.

*Foto dan wawancara, 5 Agustus 2016

  

 
 
 

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *