HAMID RUSDI – Pejuang Tiga Jaman

Jika Klakah, Lumajang memiliki pahlawan tangguh seperti Kapten Soewandak, maka Kota Malang yang sejuk dan asri memiliki seorang pahlawan yang tak kalah dalam hal kegagahan dan kelihayannya dalam bertempur melawan pasukan Belanda. Hamid Rusdi namanya. Lulusan shoodanchoo PETA angkatan I yang pada saat terjadinya Re-Ra (perubahan struktur kepangkatan) berpangkat mayor dan menjabat sebagai komandan Batalyon I Brigade IV yang berpusat di Malang.

Dalam suatu kesempatan, di penghujung tahun 2013 saya mengunjungi Bapak Imam Supardi, di Ruangan Perintis Kemerdekaan di Gedung Proklamasi Jakarta. Lorong-lorong dan tangga menuju ruangan tersebut tampak lengang dan hanya satu dua orang saja yang lalu lalang. Sebuah gedung yang tampak suram dan gelap seolah menggambarkan betapa tua usianya.

Di ruangan para perintis kemerdekaan, beberapa veteran yang tampak sudah sangat sepuh berkumpul. Wajah dan penampilan tidak dapat menggambarkan semangat yang meletup-letup ketika mereka berbincang tentang masa lalu. Bapak Imam Supardi yang saat itu menjabat sebagai Ketua Perintis Kemerdekaan, bercerita tentang pengalamannya sebagai salah satu bekas ajudan Mayor Hamid Rusdi yang monumennya ada 3 buah di Malang.
“Waktu itu kami bertiga, yaitu pak Hamid, saya dan Gandi Utomo pernah berhadapan dengan patroli musuh”.

“Jarak kami dengan patroli hanya tinggal 2 meter, tetapi karena kami bersembunyi di balik pohon, maka tidak dilihat musuh. Kebetulan patroli itu beristirahat di bawah pohon, di mana kami bersembunyi tepat di baliknya. Wah.. hal ini membuat kecemasan kami amat memuncak. Mayor Hamid menggenggam pistol terarah pada musuh, kemudian ia berbisik,”ada granat?”. Saya pun menggeleng karena kami memang tidak membawa granat. Mayor Hamid Rusdi pun diam. Syukur bahwa patroli itu segera meneruskan perjalanan.

Batalyon I pimpinan Mayor Hamid Rusdi berada di dalam kesatuan Brigade IV Malang, yang memiliki areal pertempuran yang hampir sejajar dengan BRigade III Damarwulan di bawah komando Letkol Mochammad Sroedji. Di areal Malang Selatan, kedua Brigade tersebut bertemu dan mereka melakukan perundingan dalam membuat siasat.

“Dalam suatu perundingan di Malang Selatan saat tengah malam saya mengantarkan Mayor Hamid Rusdi, untuk berunding dan mengatur siasat dengan Letkol Mochammad Sroedji dan Letkol Prayudi. Ketiganya berunding sangat serius terkait dengan rencana pergerakan pasukan dan penyusupan ke daerah musuh. Sebagai ajudan, posisi saya berjaga, sehingga saya tidak terlalu mendengar isi pembicaraan mereka. Setelah mereka selesai berunding, letkol Mochammad Sroedji mendatangi saya dan menyalami dengan semanak (ramah). Saya merasa terharu, sebagai seorang komandan pasukan besar, dengan kedudukan yang tinggi pak Sroedji bersikap rendah hati dan tidak mentang-mentang kepada saya yang saat itu pangkatnya jauh lebih rendah.” Kenang pak Imam tersenyum dengan mata menerawang..

Peristiwa gugurnya Mayor Hamid Rusdi
Gerakan penyusupan MG I (Markas Gerilya I) yang dipimpin oleh Mayor Hamid Rusdi mengalami berbagai medan berbahaya. Tanpa perbekalan apapun kelompok MG I hanya memanfaatkan air hujan sebagai pelepas dahaga dan buah nanas muda atau pisang sepet sebagai pengganjal perut.
Sepak terjang Mayor Hamid Rusdi yang trengginas membuat pasukannya sangat berwibawa dan ditakuti lawan.

Untuk membedakan siapa kawan dan siapa lawan, pasukan Mayor Hamid Rusdi menciptakan bahasa sandi yang sampai sekarang dikenal sebagai identitas “Kera Ngalam” (arek Malang), yaitu “Osob Kiwalan” atau bahasa balikan. Orang Malang sampai kini masih bangga dan aktif menggunakan osob kiwalan tersebut sebagai identitas kedaerahan.

Kembali ke perjuangan Mayor Hamid Rusdi,…
Setelah melewati berbagai pertempuran yang dahsyat, Mayor Hamid Rusdi sempat berlindung dari kejaran tentara Belanda di Gunung Buring. Suatu saat, Mayor Hamid Rusdi turun gunung untuk menemui isterinya di Wonokoyo. Tanggal 7 Maret 1949, tengah malam, tempat penginapan Mayor Hamid Rusdi di gedor 2 peleton pasukan KNIL Belanda. Pak Moesmari sebagai pemilik rumah membukakan pintu dan langsung saja pasukan tersebut menggrebek dan langsung menuju tempat tidur Mayor Hamid Rusdi dan Yoenoes. Pasukan belanda sudah siap membawa tampar untuk mengikat. Tentara KNIL tersebut mengikat ketiga penghuni rumah yang wanita dan selanjutnya menyeret Mayor Hamid Rusdi, pak Moesmari dan pak Yoenoes keluar.

Setibanya di pinggir sungai dekat Desa Wonokoyo, terdengar suara tembakan bren beruntun. Ternyata memang kelima orang tersebut ditembak mati di pinggir sungai. Komandan Mobil Gerilya I, Komandan Batalyon I, Mayor Hamid Rusdi, beserta Letnan Ismail Effendi, Abdul Razak gugur bersama kedua pemilik rumah. Tanggal 8 Maret 1949 siang hari, kelima pahlawan tersebut dimakamkan di Desa Wonokoyo.
Kegagahan dan keberanian sang komandan Hamid Rusdi tersebut tidak pernah hilang dari ingatan para pasukannya. Dan hingga kini Hamid Rusdi dikenang sebagai pahlawan kota Malang.

Sumber:
-Rakyat Jawa Timur Mempertahankan Kemerdekaan
-Perjuangan total Brigade IV
-Wawancara dengan Kolonel (Purn) Imam Supardi.

Sumber foto : http://pasartugu.blogspot.co.id/2008/03/hamid-roesdi-monument.html

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *